Minggu, 19 Oktober 2008

Mentari Yang Hilang


Namaku raihan mandala putra. Aku seorang mahasiswa semester akhir disalah satu perguruan tinggi negeri surabaya. Usiaku 23 tahun. Aku suka ikut kegiatan di kampus, karna itu banyak dosen-dosen yang kenal aku. Temanku juga banyak. Tak sedikit cewek-cewek di kampus mengutarakan cinta padaku. Bukanya sombong...!!! mungkin karna postur tubuhku yang atletis. Kata teman-teman wajahku lumayan manis, hehehehe...., dengan tinggi badan 180 cm dan berat badan 70 kg, kulit sawo matang. Setiap pulang kuliah aku sempatkan mampir ke warteg mbok sri. Disana masakanya enak-enak dan murah.

Suatu hari ketika aku berangkat kuliah tak sengaja mataku melihat seorang gadis yang rupawan di sudut kampus, dengan busana sopan, pokoknya ayu banget dach...!!!. aku yang penasaran dengan gadis itu akhirnya bertanya dengan penjaga kampus.” Pak...tadi aku melihat seorang cewek disudut kampus, dia itu siapa ya pak???”.” Ohh...dia anaknya pak sarman tukang bakso depan kampus, biasanya kalau pagi kayak gini mencari kangkung untuk makan kelincinya. Dia duduk di kelas 2 SMA”. Sejak saat itu setiap berangkat kuliah ku sempatkan tuk pandangi gadis itu walaupun secara diam-diam. Kadangkala dia tau kalau aku pandangi, sambil tertunduk malu dia tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya. “anggun sekali gadis itu,lembut dan penuh pesona” pikirku setiap aku melihatnya. Akupun masuk kampus, karna sekarang waktunya pak ali dosen terdisiplin di kampus. Telat lima menit saja sudah tak diperbolehkan masuk ruangan.

Semua mata pelajaran telah usai. Akupun bergegas tuk pulang. Hari ini aku tak mampir ke warteg mbok asri, karna tubuhku tlah lelah. Aku ingin segera sampai di rumah, trus tidur. Ku stater motorku, dengan kecepatan penuh aku kendarai. Sesampainya di rumah kutaruh motorku di bagasi dekat mobil papa. Ku berjalan menuju kamar, setelah sampai di kamar kurebahkan tubuhku tak lupa kumengunci kamar. Setelah hilang keringat aku ambil handuk lalu mandi. Semua kegiatan hari ini tlah selesai, lalu aku tidur, saat kupejamkan mata aku teringat gadis itu, “katanya pak penjaga dia anaknya pak sarman, beda banget wajahnya dengan pak sarman. Apa dia mirip istri pak sarman,” pikirku dalam hati.

Paginya aku bangun, jam telah menunjukan pukul tujuh pagi. Aku bergegas mandi lalu sarapan kemudian berangkat kuliah. Pagi ini aku tak melihat gadis itu, kemana dia ya. Aku yang di kejar waktu tak sempat tuk mencarinya. Setelah kegiatan kuliah selesai aku pulang. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Setiap pagi ketika aku berangkat tak sempatkan tuk melihat gadis itu, tapi akhir-akhir ini aku tak melihatnya sudah 1 minggu lebih, bikin tidurku tak tenang.

Pagi-pagi buta aku berangkat ke kampus, lebih awal dari biasanya. Ku sempatkan mampir ke tempat pak sarman, pura-pura beli bakso padahal niatku ingin menanyakan anaknya. Saat enak-enak makan aku bertanya pada pak sarman. “Pak...apakah bapak punya seorang anak perempuan,”tanyaku. Iya nak...namanya mentari 1 minggu yang lalu dia telah di panggil yang kuasa karna sakit leukimia. Dia anak gadis bapak satu-satunya.” mendengar cerita pak sarman aku tersentak kaget. Bakso tak kuhabiskan. Lalu aku pamit pada pak sarman setelah bayar. “ berarti keranda yang di bopong orang-orang dalamnya isinya jasad mentari” gumamku. Mentari... kenapa kau pergi sebelum berkenalan denganku. Kemanakah ku harus mencari mentari yang hilang.

Dua hari aku sakit, karna memikirkan mentari terus-terusan. Aku tak masuk kuliah. Hari ketiga agak mendingan. Aku paksakan tuk masuk kuliah, karna kutakut ketinggalan pelajaran. Mentari tlah istirahat dengan tenang disisiNya. Semoga dia dapatkan kebahagiaan disana. Selamat tinggal mentari. Aku jalani hari-hariku seperti biasa tanpa seorang mentari lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar