Jumat, 17 Oktober 2008

Gadis Pengembala Kambing



Di desa yang terpencil tinggalah sebuah keluarga yang unik. Keluarga itu terdiri dari seorang bapak yang bernama salim, seorang ibu yang bernama rima. mereka dikarunia 3 orang putri yaitu samik putri sulung, ais putri kedua dan wati si bungsu. Pak salim dan bu rima sangat menyayangi kedua putrinya ais dan wati, hanya samik yang memperoleh perlakuan yang berbeda. Pak salim dan bu rima sangat tidak adil dengan samik, seakan-akan samik seperti bukan putri kandungnya. Memang samik berbeda dengan kedua adiknya, samik buta huruf dan warna sedangkan kedua adiknya termasuk gadis-gadis yang teregolong cerdas dan luwes dalam pergaulan. Itulah sebabnya pak salim dan bu rima memperlakukan samik berbeda. Setiap pagi samik selalu masak untuk keluarganya, waktu sore dia mengembala kambing milik orang tuanya, walaupun begitu samik tak pernah meninggalkan kewajibanya sebagai seorang muslim.

Samik gadis dewasa yang berusia sekitar 25 tahun sedangkan ais 23 tahun dan wati 20 tahun. Setiap hari pekerjaan ais dan wati hanya berdandan, hura-hura dan keluyuran. Pak salim dan bu rima sangat memanjakan mereka berdua, apapun yang mereka pinta selalu dituruti sedangkan samik jangankan meminta tak menurut saja sudah dibentak-bentak. Samik yang selalu tersisih setiap hari berdo'a agar semuanya segera berakhir dan sikap orang tuanya kepada dirinya bisa berubah.

Disuatu hari bu rima menyuruh samik belanja, samikpun bergegas menghampiri ibunya sambil mengenakan jilbab seadanya. “samik kamu berangkat belanja, tapi ingat jangan lama-lama dan jangan keliru lagi seperti kemarin,” perintah bu rima, samikpun menjawab “baik bu...!”. Sambil mengayuh sepedanya samik berangkat ke pasar untuk belanja. Setelah semua belanjaan didapat samik pulang dan langsung masak. Sambil memasak samik menghayalkan andaikan dirinya diperlakukan seperti kedua adiknya oleh orangtuanya betapa bahagia hati samik. Enak-enak menghayal tiba-tiba ada orang yang menepuk pundaknya dari belakang “kak cepet masaknya wati lapar nih!” tegur wati. “iya dik sebentar lagi selesai.” jawab samik. Setelah selesai masak samik menghidangkan makanan di meja lalu makan bersama keluarganya.

Sorepun datang samik bergegas mengembala kambing, tugas harian dari orang tuanya. Samik membiarkan kambing kembalaanya direrumputan. Sambil menunggu kambingnya makan rumput samik duduk diatas batu besar dekat kali dan bernyanyi untuk melepas lelah. Tak terasa matahari mulai condong kebarat, samikpun pulang sambil menggiriring kambing kembalaanya. Setelah sampai di rumah samik memasukan kambing ke kandang lalu mandi. Setelah semuanya selesai samik istirahat.

Suatu hari pak salim sakit keras, bu rima kebingungan karna pada saat itu tak memegang uang sepersenpun. Samik sebagai anak sulung montang-manting cari pinjaman kesana-sini untuk kesembuhan ayahnya sedangkan ais dan wati hanya duduk ongkang-ongkang dirumah seakan-akan tak peduli dengan keadaan ayahnya. Hati bu rima menangis pilu karena anak-anak yang disayanginya selama ini sama sekali tak mempedulikan keadaan orang tuanya,sedangkan samik yang diperlakukan tidak adil oleh orangtuanya sangat peduli dengan keadaan orang tuanya. Sejak saat itu bu rima sadar dan berjanji dalam hati akan memperlakukan samik dengan penuh kasih.

Dua minggu lamanya pak salim sakit, setelah mendapat perawatan mantri akhirnya pak salim sembuh. Betapa riang hati samik melihat ayahnya sembuh. Doa samik untuk kesembuhan ayahnya akhirnya terkabul. Samik mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada tuhan. Sejak saat itu pak salim dan bu rima sangat menyayangi samik. Mereka berterimakasih kepada tuhan karna diberi seorang anak yang baik hati serta patuh kepada orang tua. Samik menjalani hari-hari seperti biasa sebagai gadis pengembala kambing. Samik bersyukur karna orang tuanya telah berubah dan sangat menyayanginya. Akhirnya merekapun hidup bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar