Kamis, 16 Oktober 2008

Ketabahan Hati Mbok Asri


Di sebuah desa tinggalah seorang wanita dengan anaknya. Orang-orang memanggil dia dengan sebutan mbok asri. Mbok asri ditinggal suaminya merantau ketika dia mengandung 7 bulan. Suami mbok asri tak pernah pulang, jangankan menjenguk istrinya kasih kabarpun tak pernah. Mbok asri yang tinggal seorang diri sering menangis di tengah malam. Dia menadahkan kedua tangannya setiap malam untuk keselamatan suaminya, bayi yang dikandung dan dirinya. Dua bulan kemudian mbok asri melahirkan bayi laki-laki yang sehat dan sempurna. Betapa senang hati mbok asri melahirkan buah hatinya dengan selamat walaupun tanpa didampingi seorang suami. Orang-orang memanggil mbok asri, karna memang mbok asri sudah berusia paruh baya. Setelah lama menikah mbok asri tak dikarunia seorang anak. Karna permintaanya kepada sang khaliq dengan kesungguhan hati akhirnya mbok asri diberikan anugerah yaitu seorang anak. Mbok asri dan suaminya bekerja sebagai seorang buruh tani. Karna tak tahan dengan keadaan yang serba kekurangan akhirnya suami mbok asri pamit untuk merantau, walaupun saat itu mbok asri sedang hamil tujuh bulan.

Hari berganti hari bulan berganti bulan mbok asri jalani hidupnya dengan buah hatinya yang diberi nama peno. Sekarang peno berusia tujuh bulan, sudah kelihatan lucu-lucunya. Mbok asri bangga dengan anaknya karna peno tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Mbok asri menghidupi anak dan dirinya dengan berjualan jajan keliling. Jika mbok asri bejualan peno dititipkan ketetangga yang selama ini selalu membantu mbok asri. Kadangkala mbok asri mengajak peno berjualan jika rewel.

Disuatu malam peno rewel, mbok asri yang tinggal seorang diri kebingungan tak biasanya peno seperti ini. lalu dia berkata kepada anaknya sambil meneteskan airmata”peno sayang...diamlah nak! andaikan ayahmu ada disini pasti kita tak seperti sekarang, ibu tak perlu membanting tulang untuk menghidupi kita, ibu pasti akan selalu disisimu menjagamu anakku sayang.!”. Peno semakin rewel, mbok asri semakin kebingungan. Akhirnya mbok asri yang dalam keadaan kusut, pakaian seadanya langsung mengendong pena dipunggungnya untuk pergi ke puskesmas. Sesampai di puskesmas peno langsung ditangani oleh perawat, untungnya puskesmas itu buka 24 jam. Saat itu puskesmas dalam keadaan sepi hanya ada mbok asri dan seorang pasien lainya. Setelah lama menunggu akhirnya giliran mbok asri, seorang perawat memanggil “ananda peno silakan masuk”

mbok asri membawa peno kedalam untuk menemui dokter atau bidanlah orang-orang desa menyebutnya. Akhirnya peno diperiksa, dokter mengatakan “ibu namanya siapa?” mbok asri menjawab “ ibu asri bu bidan”. Dokter mengulurkan resep kepada mbok asri sambil mengatakan “ananda peno hanya mengalami demam biasa, silakan ibu tebus obatnya” mbok asri mengambil resep dari tangan bu dokter sambil mengucapkan terima kasih dan pamit setelah membayar biaya pemeriksaan.

Ketika sampainya di rumah mbok asri menidurkan peno, kemudian tidur di samping peno baru paginya mbok asri akan menebus obat tersebut, karena jika menebus obat sekarang sudah terlalu malam lagipula harus kekota dulu. Pagi telah datang, mbok asri terbangun kemudian sholat sholat shubuh lalu beranjak ke dapur. Hari ini mbok asri masak sekadarnya karna tidak berjualan.

Setelah semua pekerjaan rumah selesai mbok asri memandikan peno lalu menyuapinya. Mbok asri menitipkan peno ketetangganya karna hari ini harus kekota untuk menebus obat peno.

Ketika di perjalanan ke kota mbok asri melihat seorang pria dipinggir jalan, gumam mbok asri dalam hati “sepertinya aku pernah melihat pria itu” karna penasaran mbok asri menghentikan langkahnya dan menemui pria tersebut. Betapa kaget hati mbok asri ketika tau kalau pria itu adalah suaminya yang telah lama menghilang. Mbok asri langsung tersentak dan mendekap pria tersebut sambil berkata”bapak kemana saja selama ini, anak kita sudah besar pak!” pak ahmad sambil menahan malu tertunduk pilu dan menjawab pertanyaan mbok asri”maafkan bapak bu, bapak tak berani pulang karna bapak tidak dapat pekerjaan”. Mbok asri berkata “ sudahlah pak yang telah terjadi jangan disesali sekarang ikut ibu ke apotik.

Mereka ke apotik naik angkot, setelah dari apotik mbok asri dan pak ahmad pulang bersama.

Setelah tiba di rumah mbok asri mengambil peno yang dititipkan ketetangganya yang bernama mbak inem. Akhirnya keluarga yang lama terpisah kini berkumpul kembali dan merekapun hidup bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar