Tampilkan postingan dengan label kisah-kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah-kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2008

Khansa' binti Khidzam

slam meletakkan wanita di tempat yang patut. Dia adalah

pemimpin rumah tangga dan pelaksana urusan serta penanggungjawabnya.
Orang laki-laki membantunya dalam urusan itu, sedang dia membantu
orang laki-laki dalam urusan selain itu. Adapun kemerdekaannya, maka
hal itu tampak dalam kemerdekaan perkawinan dan kebebasan menyatakan
pendapatnya. Itu adalah urusan haknya. Tidak seorang pun boleh meram-
pas haknya untuk berpendapat atau melanggar izinnya. Kemerdekaannya
dalam hal itu lebih jauh jangkauan dan lebih sempurna kedudukannya
daripada orang laki-laki.

Apabila dia menikah dengan seorang laki-laki, kemudian orang
laki-laki itu tidak menyukai lalu meninggalkannya sebelum menggauli,
maka baginya setengah dari mahar. Jika dia meninggalkannya sesudah
menggauli, maka isteri berhak atas mahar seluruhnya. Suami tidak boleh
berkata : Nasab itu derajatnya di bawah aku. Semua wanita sepadan
dengan laki-laki, hanya ketakwaannya saja yang menentukan perbedaan
derajat di sisi Allah SWT.

Wanita boleh memutuskan ikatan perkawinan, jika dia tertipu
atau dipaksa melakukannya. Orang laki-laki tidak boleh memaksanya
menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya. Rasulullah SAW telah
membatalkan pernikahan Khansa' binti Khidzam Al-Anshariah, karena
ayahnya menikahkan, sedang dia tidak suka.

Khansa' binti Khidzam adalah dari Bani Amru bin Auf bin Aus.
Dia berjumpa dengan Nabi SAW ketika beliau datang ke Madinah. Pada
waktu itu Khansa' masih kecil dan mendengar tentang Nabi SAW. Dia
lalu dipinang oleh dua orang : Yang pertama adalah Abu Lubabah Ibnul
Mundzir, seorang pahlawan tersohor di antara para shahabat Rasulullah
SAW. Sedang kedua adalah seorang laki-laki dari Bani Amru bin Auf,
familinya. Dia lebih menyukai Abu Lubabah, sedangkan ayahnya memilih
putera pamannya. Kemudian sang ayah tetap melangsungkan pernikahannya
tanpa memperdulikan persetujuan puterinya.

Maka pergilah Khansa' kepada Rasulullah SAW dan berkata :
"Ayahku telah memaksaku untuk menikah dan tidak mempedulikan perasaan-
ku." Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :"Tidak sah nikahnya. Nikahilah
orang yang engkau kehendaki." [Sahih Bukhari, juz 7 halaman 18 dan
Al-Ishaabah juz 8, halaman 65]. Kemudian dia menikah dengan Abu Lubabah.

Para muhaddis berselisih tentang keadaannya ketika dia menikah.
Dalam riwayat Muwaththa' dan Ats-Tsauri disebutkan, bahwa dia masih
perawan. Dalam riwayat Bukhari dan Ibnu Sa'ad disebutkan, bahwa dia
sudah janda dan berkata :"Wahai, Rasulullah, sesungguhnya paman anakku
lebih aku sukai." Maka Nabi SAW menyuruhnya memilih. Syamsul Aimmah As-
Sarkhasin meriwayatkan dalam Al-Mabsuth hadits Khansa' binti Khidzam
dengan versi berikut : Khansa' berkata :"Ayahku menikahkan aku dengan
putera saudaranya, sedangkan aku tidak menyukai hal itu." Maka Nabi SAW
menjawab :"Setujuilah apa yang diperbuat ayahmu." Aku berkata :"Aku
tidak menyukai apa yang dilakukan ayahku." Nabi SAW bersabda :"Pergilah.
Nikahnya tidak sah. Nikahilah orang yang engkau sukai." Khansa' berkata :
"Aku setuju dengan apa yang dilakukan ayahku, tetapi aku ingin semua
orang mengetahui, bahwa para ayah tidak boleh sewenang-wenang dalam
urusan puteri-puteri mereka." Penulis Al-Mabsuth berkata :"Nabi SAW
tidak mempersalahkan perkataannya itu." [Al-Mabsuth juz 5, halaman 2]

Pembicaraan tentang Khansa' beralih pada pembicaraan tentang
Bariroh. Siapakah Bariroh itu ? Dia adalah sahaya perempuan dari Haba-
syah yang dimiliki oleh Utbah bin Abu Lahab. Dia mengawinkannya dengan
sahaya laki-laki Mughirah. Tidaklah dia menyukainya, kalau boleh dia
memilih. Maka Ummul Mu'minin Aishah r.a. merasa kasihan, lalu membeli
dan membebaskannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya :"Engkau
telah menguasai dirimu, maka pilihlah."

Suaminya berjalan di belakangnya sambil menangis, sementara
Bariroh menolaknya. Maka Nabi SAW bersabda kepada para shahabatnya :
"Tidakkah kalian merasa heran atas cintanya yang sangat kepada isterinya
dan kebencian sang isteri kepada suaminya ?" Kemudian beliau bersabda
kepada Bariroh :"Takutlah kepada Allah, karena dia adalah suami dan ayah
anakmu." Bariroh berkata :"Apakah engkau menyuruhku ?" Nabi SAW menjawab:
"Sesungguhnya aku adalah pemberi syafa'at." Bariroh berkata :"Kalau begitu,
aku tidak membutuhkannya." [Al-Mabsuth, juz 5, halaman 99 yang disusun
oleh Syamsul Aimmah As-Sarakhasii, salah satu Imam Hanafiah dan kadhi
terkemuka]

Apakah orang-orang merasa heran setelah itu, melihat penentangan
wanita-wanita Arab terhadap kesewenang-wenangan para bapak dan wali mereka?
Betapa banyak kejahatan dilakukan dengan sebab pengabaian pendapat anak-
anak perempuan dan karena mereka dinikahkan dengan laki-laki yang tidak
sepadan dalam hal tabiah dan akhlaq, demi mengejar materi dan mengharapkan
harta suami.

Tidakkah para bapak mengingat penderitaan psikologis dan jasmani
yang dialami oleh anak-anak perempuannya itu ? Inilah seorang wanita muda
yang dikawinkan ayahnya tanpa izin. Dia menulis surat kepada ayahnya :

Wahai, Ayahku, engkau aniaya aku dan
engkau timpakan cobaan padaku
dan engkau serahkan diriku ke tangan
orang yang menghinakannya
Wahai, Ayahku, kalau tidak takut dosa
tentulah engkau telah didoakan yang
dikabulkan karena kesalahanmu.

Seorang wanita lain berkata ketika ayahnya mengawinkannya dengan
putera pamannya :

Sungguh mengherankan wanita cantik
yang dikawinkan dengan seorang tua;
Ia menyuruhnya kawin dengan orang itu
karena masih kerabatnya. Hati-hatilah wanita cantik
terhadap putera pamannya.




Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'aith

Kehidupannya (Ummu Kultsum) adalah contoh pengorbanan dan

jihad fi sabilillah (di jalan Allah). Dalam Thabaqaat Ibnu Sa'ad
berkata :"Dia adalah wanita pertama yang hijrah ke Madinah setelah
hijrah Nabi SAW dan para shahabatnya. Kami tidak mengetahui seorang
wanita Muslim Quraisy yang keluar dari kedua orang tuanya dan hijrah
kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Ummu Kultsum."

Dia keluar dari Mekkah sendirian dan ditemani oleh seorang
laki-laki dari Khuza'ah hingga tiba di Madinah pada waktu gencatan
senjata. Dia dikejar oleh kedua orang saudaranya. Kedua orang itu
tiba pada hari kedua setelah kedatangannya. Keduanya berkata :"Hai
Muhammad, kami menuntuk syarat, maka penuhilah syarat itu." Maka
Ummu Kultsum berkata :"Wahai, Rasulullah, aku seorang wanita. Wanita
itu lemah. Aku khawatir mereka mengganggu dalam agamaku,sedangkan aku
tidak sabar, sehingga Allah membatalkan janji pada wanita."

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat Imtihan (ujian) dan
memutuskan dengan keputusan yang mereka sama-sama menyepakatinya.
Disebutkan :"Hai, orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah
kepadamu wanita yang beriman, maka hendaklah kami uji (keimanan)
mereka...." dan seterusnya, dua ayat (QS. Al-Mumtahanah, 60:10-11)
Kemudian Rasulullah SAW menguji dia dan wanita-wanita sesudahnya :
"Tidaklah kalian keluar, kecuali karena cinta Allah dan Rasul-Nya
serta Islam, bukan karena cinta suami dan harta." Apabila mereka
mengatakan hal itu, maka mereka tidak dikembalikan.

Ibnu Sa'ad berkata : Karena tidak mempunyai suami di Mekkah,
maka dia pun dinikahi oleh Zaid, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, lalu
Amru bin Ash, kemudian wafat sebagai isterinya.

Sesungguhnya, ketika masih muda dan belum menikah, dia tidak
pernah berpisah dari ayah-bundanya. Kemudian iman memasuki hatinya,
maka dia keluar dari Mekkah sendirian dan hijrah kepada Allah dan Rasul-
Nya SAW. Kedua saudaranya mengejar untuk mengajak dia kembali.

Pada waktu itu Rasulullah SAW telah berdamai dengan Quraisy
pada persetujuan Hudaibiah dengan syarat beliau setuju mengembalikan
orang-orang Muslim yang datang kepada mereka. Ketika para wanita datang
kepadanya, Allah tidak setuju Nabi SAW mengembalikan kepada kaum Musyrikin,
maka turunlah ayat-ayat yang menyuruh menguji mereka :(Maka ujilah keimanan
mereka) dengan bersumpah :Apakah mereka wanita Muslim yang sebenarnya atau
tidak ?

"Adalah Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'aith termasuk orang-
orang yang keluar kepada Rasulullah SAW dan waktu itu dia masih muda belia.
Kemudian keluarganya datang meminta kepada Rasulullah SAW agar mengembalikan
kepada mereka, sehingga Allah SWT menurunkan ayat-ayat tentang wanita-wanita
beriman." (HR Bukhari dari Al-Miswar bin Makhramah)

Dalam Siyar A'laamin Nubala', Imam Adz-Dzahabi berkata :Ummu Kultsum
bin Uqbah bin Abi Mu'aith masuk Islam dan berbai'at. Dia tidak sempat hijrah
hingga tahun 7 Hijriah, dan keluarnya di jaman perdamaian Hudaibiah. Kedua
saudaranya adalah :"Al-Walid dan Ammaroh.

Ummu Kultsum lulus dalam ujian dan berhasil menyelamatkan agamanya
dari kaumnya. Diriwayatkan :Ujian itu dilakukan dengan cara mengucapkan
sumpah :"Aku tidak keluar,kecuali karena mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan
aku tidak keluar untuk mencari dunia maupun membenci suami." Ada yang menga-
takan :"Kami bersaksi dengan perkataan yang baik. Aku telah bersaksi di
hadapan beberapa saksi : Sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah Rasulullah SAW."

Ummu Kultsum mempunyai kedudukan mulia di antara kaum Muslimin. Hal
itu menjadi jelas dari riwayat sebagaimana dalam Al-Ishaabah dan diriwayat-
kan oleh Ibnu Mandah, bahwa Umar bin Khaththab r.a. bertanya kepada Ummu
Kultsum binti Uqbah, isteri Abdurrahman bin Auf :"Apakah Rasulullah SAW ber-
kata kepadamu :"Nikahilah pemimpin kaum Muslimin, Abdurrahman bin Auf ?"
Ummu Kultsum menjawab:"Ya."

Haditsnya terdapat dalam Shahihain dan ketiga kitab Sunan, dia
berkata :"Aku tidak mendengar Nabi SAW mengizinkan suatu dusta dalam
perkataan yang diucapkan orang-orang, kecuali dalam tiga perkara....
alhadits." Nasai meriwayatkan sebuah haditsnya yang lain dalam Al-Kubra,
mengenai keutamaan :"Qul huwallaahu ahad."

Ummu Kultsum meriwayatkan dari Nabi SAW 10 hadits, di antaranya
sebuah hadits diriwayatkan dalah shahihain, yang disepakati Bukhari dan
Muslim. Ummu Kultsum binti Uqbah telah beriman sendirian, tanpa seorang
laki-laki pun di rumahnya. Dia tinggalkan tempat pingitan dan keamanan
serta ketenangannya di bawah kegelapan seorang diri. Kedua kakinya berjalan
melalui gunung-gunung dan padang pasir di antara Mekkah dan Madinah, menuju
tempat perlindungan agama dan negeri hijrahnya. Dia berhijrah kepada Rasul
Allah SAW kemudian disusul oleh ibunya yang mengikuti jejak dan berhijrah
seperti dia. Dia tinggalkan para pemuda dalam keluarganya dan orang-orang
tua mereka yang tetap terombang-ambing dalam kesesatannya. [Al-Ishaabah,
juz 8, halaman 275].

Kata-kata Ummu Kultsum kepada Rasulullah SAW akan tetap menjadi
cahaya yang menerangi jalan bagi setiap wanita muda yang beriman kepada
Tuhannya :"Wahai, Rasulullah, apakah Anda akan kembalikan aku kepada
orang-orang kafir yang menggangguku, supaya aku tinggalkan agamaku, sedang-
kan aku tidak bisa bersabar ? Dan bukankah telah Anda ketahui keadaan wanita
yang lemah ? Sesungguhnya ada perjanjian yang menyebutkan syarat untuk me-
nolak setiap orang yang masuk Islam dari Mekkah dan berhijrah ke Medinah,
baik laki-laki maupun perempuan."

Maka turunlah ayat Al-Qur'an :"Apabila datang kepadamu wanita-
wanita beriman yang berhijrah, maka ujilah (keimanan) mereka." Maka Nabi
SAW bersabda :"Demi Allah, tidaklah kalian keluar, kecuali karena mencintai
Allah SWT dan Rasul-Nya SAW serta Islam. Kalian tidak keluar karena suami
maupun harta. Apabila mereka ucapkan itu, maka mereka tidak kembali kepada
orang-orang kafir."



Durrah binti Abu Lahab bin Abdul Muththalib, Puteri Paman Nabi SAW

Durrah binti Abu Lahab masuk Islam, kemudian hijrah dan meng-

amalkan Islam dengan baik. Imam Adz-Dzahabi berkata :"Dia mempunyai
sebuah hadits dalam "Al-Musnad", dari riwayat putera pamannya, Al-
Harits bin Naufal." [Ath-Thabaqaat (8/34), Al-Istii'aab (4/290), Al-
Ishaabah (7/634), dan Ushudul Ghaabah (5/449)]

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Al-Ishaabah, bahwa ketika Durrah
binti Abu Lahab datang ke Madinah sebagai muhajir, dia turun di rumah
Rafi' bin Mu'alla. Kemudian beberapa wanita bani Zuraiq berkata kepa-
danya :"Engkau puteri Abu Lahab, yang Allah berfirman tentang dia :
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab (QS. Al-Lahab, 111:1). Maka hijrahmu
tidak berguna bagimu." Kemudian dia datang kepada Nabi SAW dan mence-
ritakan hal itu kepada beliau. Maka Nabi SAW berkata :"Duduklah."

Kemudian beliau mengimami Sholat Zhuhur dan duduk di atas mimbar
sesaat. Lalu beliau bersabda :"Wahai, orang-orang, mengapa aku diganggu
atas keluargaku ? Demi Allah, sungguh syafa'atku akan diperoleh kerabat-
ku, bahkan Shada', Hakam, dan Salhab pun akan memperolehnya pada hari
kiamat." [Ibnu Hajar menyebutnya dalam Al-Ishaabah dengan perkataan :
Diriwayatkan oleh Ibnu Ashim, Thabarani dan Ibnu Mandah, dari jalan Ab-
durrahman bin Basyar, dan ia adalah dhoif, dari Muhammad bin Ishaq, dari
Nafi' dan Zaid bin Aslam, dari Ibnu Umar, dan Sa'id Al-Maqbari dan Ibnu
Al-Munkadir, dari Abu Hurairah, dan dari Ammar bin Yasir. Mereka berkata:
"Datang Durrah....hingga akhir hadits...." ; Al-Ishaabah, juz 7 hal. 634]

Daruquthni meriwayatkan dalam kitab Al-Ikhwah, Ibnu Ady dalam
Al-Kaamil dan Ibnu Mandah dari Durroh binti Abu Lahab, dia berkata :
Nabi SAW bersabda :"Orang hidup tidak boleh mengganggu orang yang sudah
mati." Adab Nabawi inilah yang patut kita miliki dan tidak kita tinggal-
kan selamanya, betapa pun kita memusuhi orang yang sudah mati itu.

Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq

Dia seorang wanita muhajir yang mulia dan tokoh yang besar

karena akal dan kemuliaan jiwa serta kemauannya yang kuat. Asma'
dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma' 10 tahun lebih tua daripada
saudaranya seayah, Aisyah, Ummul Mu'minin dan dia adalah saudara se-
kandung dari Abdullah bin Abu Bakar.

Asma' mendapat gelar Dzatun nithaqain (si empunya dua ikat
pinggang), karena dia mengambil ikat pinggangnya, lalu memotongnya
menjadi dua. Kemudian, yang satu dia gunakan untuk sufrah (bungkus
makanan untuk bekal) Rasulullah SAW, dan yang lain sebagai pembungkus
qirbahnya pada waktu malam, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-
Shiddiq keluar menuju gua.

Penduduk Syam mengolok-olok Ibnu Zubair dengan julukan
"Dzaatun nithaqain" ketika mereka memeranginya. Maka Asma' bertanya
kepada puteranya itu, Abdullah bin Zubair :"Mereka mengolok-olokkan
kamu ?" Abdullah menjawab :"Ya." Maka Asma' berkata :"Demi Allah,
dia adalah benar." Ketika Asma' menghadap Al-Hajjaj, dia berkata:
"Bagaimana engkau mengolok-olok Abdullah dengan julukan Dzatun nitha-
qain ? Memang, aku mempunyai sepotong ikat pinggang yang harus dipakai
oleh orang perempuan dan sepotong ikat pinggang untuk menutupi makanan
Rasulullah SAW."

Asma' telah lama masuk Islam di Mekkah, sesudah 17 orang dan
berbai'at kepada Nabi SAW, serta beriman kepadanya dengan iman yang
kuat.

Pengamalan Islam Asma' yang Baik
--------------------------------
Pada suatu ketika, datang Qatilah binti Abdul Uzza kepada
puterinya, Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, sedangkan Abu Bakar
telah menalaknya di zaman jahiliyyah, membawa hadiah-hadiah berupa
kismis, samin dan anting-anting. Namun Asma' menolak hadiah tersebut
dan tidak mengizinkannya memasuki rumahnya. Kemudian dia memberitahu
Aisyah :"Tanyakan kepada Rasulullah SAW ....?" Aisyah menjawab :"Bi-
arlah dia memasuki rumahnya dan dia (Asma') boleh menerima hadiahnya."

Tindakan Asma' yang Baik
------------------------
Abu Bakar r.a. membawa seluruh hartanya yang berjumlah 5.000
atau 6.000 ketika Rasulullah SAW pergi hijrah. Kemudian kakeknya, Abu
Quhafah datang kepada Asma' sedangkan dia seorang buta. Abu Quhafah
berkata :"Demi Allah, sungguh aku lihat dia telah menyusahkan kalian
dengan hartanya, sebagaiamana dia telah menyusahkan kalian dengan
dirinya."

Maka Asma' berkata kepadanya:"Sekali-kali tidak, wahai, Kakek!
Beliau telah meninggalkan kebaikan yang banyak bagi kita." Kemudian
Asma' mengambil batu-batu dan meletakkanya di lubang angin, di mana
ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan
selembar baju. Setelah itu Asma' memegang tangannya (Abu Quhafah) dan
berkata: "Letakkan tangan Anda di atas uang ini." Maka kakeknya mele-
takkan tangannya di atasnya dan berkata :"Tidaklah mengapa jika dia
tinggalkan ini bagi kalian, maka dia (berarti) telah berbuat baik. Ini
sudah cukup bagi kalian." Sebenarnya Abu Bakar tidak meninggalkan se-
suatu pun bagi keluarganya, tetapi Asma' ingin menenangkan hati orang
tua itu.

Az-Zubair ibnul Awwam menikah dengannya, sementara dia tidak
mempunyai harta dan sahaya maupun lainnya, kecuali kuda. Maka Asma'
memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Me-
numbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat
adonan roti. Suatu ketika Az-Zubair bersikap keras terhadapnya, maka
Asma' datang kepada ayahnya dan mengeluhkan hal itu. Maka sang ayah
pun berkata : "Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya wanita itu apabila
bersuami seorang yang sholeh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang
isterinya tidak menikah lagi, maka keduanya akan berkumpul di surga."

Asma' datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya :"Wahai, Rasulullah,
aku tidak punya sesuatu di rumahku, kecuali apa yang diberikan oleh Az-
Zubair kepadaku. Bolehkah aku memberikan dan menyedekahkan apa yang di-
berikan kepadaku olehnya ?" Maka Nabi SAW menjawab :"Berikanlah (berse-
dekahlah) sesuai kemampuanmu dan jangan menahannya agar tidak ditahan
pula suatu pemberian terhadapmu." Maka Asma' adalah termasuk seorang
wanita dermawan. Dari Abdullah bin Zubair r.a. dia berkata :"Tidaklah
kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma'."
Kedermawanan mereka berbeda. Adapun Aisyah, sesungguhnya dia suka mengum-
pulkan sesuatu, hingga setelah terkumpul padanya, dia pun membagikannya.
Sedangkan Asma', maka dia tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma'
adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Dia tidak menyimpan
sesuatu untuk hari esok. Pernah dia menderita sakit, lalu dia bebaskan
semua hamba sahayanya.

Asma' ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Az-Zubair, dan
menunjukkan keberaniannya yang baik. Dia membawa sebilah belati dalam
pasukan Said bin Ash di masa fitnah, lalu diletakkannya di balik lengan
bajunya. Kemudian ditanyakan kepadanya :"Apa yang kamu lakukan dengan
membawa ini ?" Asma' menjawab :"Jika ada pencuri masuk kepadaku, maka
aku tusuk perutnya." Umar ibnul Khaththab r.a. memberi tunjangan untuk
Asma' sebanyak 1000 dirham.

Asma' meriwayatkan 58 hadits dari Nabi SAW; dan dalam suatu
riwayat dikatakan : bahwa dia meriwayatkan 56 hadits [Al-Kazaruni,
"Mathaali'ul Anwaar"]. Telah sepakat antara Bukhari dan Muslim atas
14 hadits. Bukhari meriwayatkan sendiri atas 4 hadits, sedangkan Muslim
juga meriwayatkan sebanyak itu pula. [Al-Hafih Al-Maqdisi, Al-Kamaal fii
Ma'rifatir Rijaal]. Dalam satu riwayat : Diceritakan bahwa Asma' meri-
wayatkan 22 hadits dalam Shahihain. Sedangkan yang disepakati Bukhari dan
Muslim 13 hadits. Bukhari meriwayatkan sendiri 5 hadits, sedangkan Muslim
meriwayatkan 4 hadits. [Ibnul Jauzi, "Al-Mujtana"]

Asma' Sebagai Penyair dan Pemberani
-----------------------------------
Asma' adalah wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika
dan bayan. Dia berkata mengenai suaminya, Az-Zubair, ketika dibunuh oleh
Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi'i di Wadi As-Siba' (5 mil dari Basrah) ketika
kembali dari Perang Jamal :
Ibnu Jarmuz mencurangi seorang pendekar
dengan sengaja
di waktu perang, sedang dia tidak lari
Hai, Amru, kiranya kamu ingatkan dia
tentu kamu mendapati dia
bukan seorang yang bodoh, tidak kasar
hati dan tangannya
semoga ibumu menangisi, karena kamu
bunuh seoranng Muslim
dan kamu akan terima hukuman
pembunuhan yang disengaja

Tekad Asma' yang Kuat, Kemuliaan Jiwa dan Keberaniannya
-------------------------------------------------------
Kata-kata Asma' kepada puteranya menunjukkan kepada kita tentang
makna-makna yang luhur itu. Suatu saat puteranya, Abdullah, datang menemui
ibunya, Asma' yang buta dan sudah berusia 100 tahun. Dia berkata kepada
ibunya :"Wahai, Ibu, bagaimana pendapat Anda mengenai orang yang telah
meninggalkan aku, begitu juga keluargaku." Asma' berkata :"Jangan biarkan
anak-anak kecil bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan
matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap akan terhibur
mengenaimu dengan baik." Kemudian Abdullah keluar dan bertempur hingga ia
mati terbunuh.

Konon, Al-Hajjaj bersumpah untuk tidak menurunkannya dari tiang
kayu hingga ibunya meminta keringanan baginya. Maka tinggallah dia di
situ selama satu tahun. Kemudian ibunya lewat di bawahnya dan berkata :
"Tidakkah tiba waktunya bagi orang ini untuk turun ?" Diriwayatkan, bahwa
Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah
engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" Asma' menjawab :"Engkau
telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu."

Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap
utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut
Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah
Ibnu Hisyam]. Penulis buku, Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi mencatat dialog
yang terjadi antara Asma' dengan Abdullah, dalam sebuah kasidah yang di-
anggap sebuah karya seni yang indah. Dia berkata :
Asma' di antara manusia adalah sebaik-baik wanita
ia lakukan perbuatan terbaik di saat perpisahan
datang kepadanya Ibnu Zubair menyeret baju besi
di bawah baju besi berlumur darah
Ia berkata : Wahai, Ibu, aku telah payah dengan urusanku
antara penawanan yang pahit dan
pembunuhan yang keji.
Teman-teman dan zaman mengkhianatiku,
maka aku tak punya teman selain pedangku
kulihat bintangku yang tampak terang
telah lenyap dariku dan tidak lagi naik.
Kaumku telah berupaya melindungiku,
maka tak ada penolong selain itu jika
aku menerimanya.
Asma' menjawab dengan kelopak mata
yang kering seakan-akan tidak ada tempat sebelumnya
bagi air mata.
Air mata itu berubah menjadi uap
yang naik dari hatinya yang patah.
Tidaklah diselamatkan kecuali kehidupan
atau ia menjadi tulang-belulang seperti
halnya batang pohon
kematian di medan perang lebih baik bagimu
daripada hidup hina dan tunduk
jika orang-orang menelantarkanmu,
maka sabar dan tabahlah,
karena Allah tidak menelantarkan.
Matilah mulia, sebagaimana engkau hidup mulia
dan hiduplah selalu dalam namamu
yang mulia dan tinggi
tiada di antara hidup dan mati
kecuali menyerang di tengah pasukan itu.

Kata-kata Asma' kepada puteranya ini akan tetap menjadi cahaya
di atas jalan kehidupan yang mulia, yaitu ketika puteranya berkata :
"Wahai, Ibu, aku takut jika pasukan Syam membunuhku, mereka akan memotong-
motong tubuh dan menyalibku." Asma' menjawab dengan perkataan yang kukuh
seperti gunung, kuat seperti jiwanya, besar seperti imannya, dan
perkataan itulah yang menentukan akhir pertempuran : "Hai, Anakku, sesung-
guhnya kambing yang sudah disembelih tidaklah merasa sakit bila ia dikuliti."

Al-Manfaluthi menyudahi kasidahnya dengan perkataan :
Datang berita kematian kepada ibunya,
maka ia pun mengeluarkan air matanya
yang tertahan.

Abdullah gugur sebagai syahid dan unggulan nilai-nilai yang tinggi
dari ibu teladan. Kisah ini tercatat dalam lembaran-lembaran yang paling
cemerlang dalam sejarah orang-orang yang kekal.


Fatimah binti Muhammad SAW

Fatimah adalah "ibu dari ayahnya." Dia adalah puteri yang

mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para makhluq Rasulullah
SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.
Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada
ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab,
hasab dan nasab.

Fatimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi' dan
Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kul-
tsum. Dia adalah anak yang paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau
bersabda :"Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga
menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." [Ibnul
Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]

Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni
syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil'aalamiin, dan ibu dari
Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :"Keturunan Zainab
telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti
Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya ber-
kata :"Ya, Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah
dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." ["Siyar
A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]

Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :"Datang Fatimah kepada
Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :
"Ucapkanlah :"Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung.
Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat,
Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih. Aku berlindung kepada-
Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya. Engkau-
lah awal dan tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau-lah yang akhir dan tiada
sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin dan tiada sesuatu di bawah-
Mu. Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan." (HR. Tirmidzi)

Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri
dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa
ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-
wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin.
Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW,
Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanydengan air, sehingga darah
semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia
mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka
itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar." (HR. Syaikha dan
Tirmidzi) Dalam kancah pertarungan yang dialami ut kita, tampaklah
peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi
Muslim masa kini.

Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra', puteri Nabi
SAW, di tengah-tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah panggung
yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman-tikaman tombak dan pukulan-
pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin untuk
menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit. Inilah gambaran
lain dari pute sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan kepadada para
pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas yang tidak
dapat dipenuhi.

Ali r.a. berkata :"Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak
mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu
malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari.
Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu." Ketika Rasulullah SAW
menikahkannya (Fatimah), belmengirimkannya (unta itu) bersama satu
lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum,
sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum
itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit)
berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu
bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah
dia, Az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.

Fatimah selalu berada di sampingnya, maka tidaklah mengherankan
bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang
penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, "ibu ayahnya, Muhammad", Al-
Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra' (yang ce-
merlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi
keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa payah,
dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keuta-
maan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah' r.a. dia berkata :

"Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu
datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan
Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya
berkata :"Selamat datang, puteriku." Kemudian beliau mendudukkannya di
sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah
menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW ber-
bisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu
aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara
khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!" Ketika Nabi
SAW pergi, aku bertanya kepadanya :"Apa yang dikatakan Rasulullah SAW
kepadamu ?" Fatimah menjawab :"Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasul
Allah SAW." Aisyah berkata :"Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata
kepadanya :"Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah
kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?" Fatimah pun
menjawab :"Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali
kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa
bacaannya terhadap Al Qur'an sekali dalam setahun, dan sekarang dia
memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah
kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahului-
mu." Fatimah berkata :"Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau
lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku,
dan berkata :"Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin
wanita-wanita kaum Mu'min atau ummat ini ?" Fatimah berkata :"Maka aku
pun tertawa seperti yang engkau lihat."

Inilah dia, Fatimah Az-Zahra'. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi
mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingg berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga
berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.
Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia ber-
kata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :"Bantulah pekerjaan
puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil air, sedangkan dia akan men-
cupimu bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung, membuat roti
dan menggiling gandum."

Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah
datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya
bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya." Kemudian
Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadanya :"Apa
sebabnya engkau datang, wahai anakku ?" Fatimah menjawab :"Aku datang
untuk memberi salam kepadamu." Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya,
lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya :
"Apakah keperluanmu ?" Fatimah diam.

Ali r.a. lalu berkata :"Aku akan menceritakannya kepada Anda,
wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga
berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku me-
nyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa mem-
bantunya guna meringankan bebannya."

Kemudian Nabi SAW bersabda :"Demi Allah, aku tidak akan memberikan
pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah
merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku
jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada mereka
ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala,
tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menuti kaki, tampak kepala-kepala
mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :"Tetaplah di tempat
tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada
apa yang kalian minta dariku ?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi SAW bersabda:
"Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucap-
kan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali
dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah
33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali."

Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah
Fatimah menimang-nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :"Anakku
ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali."

Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika
ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata :
"Aduh, susahnya Ayah !" Nabi SAW menjawab :"Tiada kesusahan atas Ayahanda
sesudah hari ini." Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata :"Wahai,
Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai, Ayah, di surfa Firdaus
tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya."

Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam
Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmi-
dzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata :"Kami tidak mengetahui
seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah SAW yang lebih banyak me-
riwayatkan darinya selain Fatimah."

Fatimah pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais tentang tubuh
yang kurus. Dia berkata :"Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?"
Asma' menjawab :"Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita
dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan." Maka Fatimah menyuruh
membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda
itu, maka dia berkata :"Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi
aurat kalian." [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar A'laamin
Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far]

Ibnu Abdil Barr berkata :"Fatimah adalah orang pertama yang
dimasukkan ke keranda pada masa Islam." Dia dimandikan oleh Ali dan
Asma', sedang Asma' tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a.
berdiri di kuburnya dan berkata :

Setiap dua teman bertemu tentu
akan berpisah
dan semua yang di luar kematian
adalah sedikit kehilangan satu demi satu
adalah bukti bahwa teman itu
tidak kekal

Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran,
mata dan hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat
hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya. Ketika Nabi SAW
terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah
menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah
langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air
dan membasuh mukanya.

Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut
menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan
kulihat Az-Zahra' a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya
dengan cinta dan kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra',
puteri Nabi SAW, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika
keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu
Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin r.a. dan mengangkut
air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi
makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah SWT.