Selasa, 11 November 2008

ABDULLAH BIN ABBAS

Lisannya bertanya, Qalbunya mencerna

  Di  antara  sahabat-sahabat RasuluLlah SAW,  terdapat  beberapa
sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia
sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka
telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada para sahabat cilik
ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan
beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk
bermain, bicara dan menasehati mereka.

AbduLlah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok
sahabat junior ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah.
Semenjak kecilnya, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan ke
sungguhannya terhadap suatu masalah. RasuluLlah mengetahui poten
si besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau
melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin
Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.

RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL
lah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak
Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya
kepada pemuda cilik ini:

"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat
yang sangat berguna?

Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda
patkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laran
ganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapan
mu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka ALlah akan mengenalimu
dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada ALlah. Jika
engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua
hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah,
seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan
apa yang tidak ditaqdirkan ALlah untukmu, mereka tidak akan
mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk mengha
langi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka
juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan
lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar
dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa
kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan
itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu
tiba setelah kesulitan.
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi]

Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang
manakah hasil tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh
menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat
dengan ALlah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung
bagaimana cara RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap
di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist.
Ketika itu ia melihat RasuluLlah bangun tengah malam dan pergi
berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu,
dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana RasuluLlah
berwudhu. RasuluLlah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele
kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas,
seraya mendo'akan: "Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara
agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."

Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi
oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia
segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah
kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya.
Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi kemudian ia
mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper
tanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa
rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan
ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau
mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau
sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya berse
dih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk
bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa
saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan ajaran al-Islam. Logika
Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada
di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan
informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota
lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak
ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata
beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan
pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.

Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para
sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia
tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari
kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebet
ulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di
depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakai
annya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas terti
dur di muka rumahnya, "Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan?
Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada
keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang
menemui anda."

Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa
dewasanya?

beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang
lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin
Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya
dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada
Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat.
Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas,
dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.

Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau berga
bung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara,
di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam
pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan
Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk
menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan
diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij
bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71
tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini
telah wafat Ulama Ummat. Semoga ALlah SWT berkenan memberikan
pengganti AbduLlah bin Abbas."

Sabtu, 08 November 2008

Teman Curhat Sejatiku(ilahi robbi)

Ya Rob....
malam ini kurendahkan diriku
Kubersimpuh padaMU
Dalam sujud malamku

Ya Rob...
Butiran air mata basahi pipi
Mengungkap tabir dalam hati
Yang semakin bergemuruh

Ya Rob...
Jeritan hati meronta-ronta
Menahan gelisah yang menggunung
Dan tak tau sampai kapan akan berakhir

Ya Rob...
Sudah lelah jiwa ini berkelana
Menerjang gelombang yang bertubi-tubi
Mencari dimana tempat berlabuh

Ya Rob...
Sebelum hamba menutup mata
MenghadapMu tuk selamanya
Meninggalkan dunia fana

Ya Rob...
Sebelum hamba menuju tujuan yang abadi
Izinkanlah hamba
menjadi istri yang sholeha

Mendampingi seseorang yang sanggup
mengimami hamba dunia akhirat
sanggup menerima hamba apa adanya
dengan segala kekurangan hamba

Jumat, 31 Oktober 2008

Kisah Si Jerapah


Di sebuah hutan tinggalah seekor jerapah jantan. Dia hidup sendiri tanpa orang tua, karena sejak kecil orang tuanya telah mati di makan harimau. Si jerapah banyak kawan, karena dia adalah seekor binatang yang baik hati. Dimanapun dia berada selalu menolong binatang yang sedang kesulitan tanpa mengharapkan suatu imbalan. Suatu hari si jerapah sedang jalan-jalan keliling hutan. Tiba-tiba dia mendengar ada suara jeritan minta tolong. “tolong...tolong...”!. “Suara apa itu ya?”gumam si jerapah. Si jerapah menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari suara tersebut, setelah lama mencari akhirnya dia menemukan rimbanya suara tersebut. Ternyata seekor nyamuk yang terjerat sarang laba-laba. “hai...nyamuk kenapa kau jadi begini?” tanya si jerapah. “aku terjerat sarang laba-laba ketika terbang mencari makanan.” jawab si nyamuk. Akhirnya si jerapah melepaskan sarang laba-laba yang menjerat tubuh nyamuk. Setelah lilitan dilepaskan nyamuk terbebas dan terbang sambil berkata”terima kasih jerapah...! apa yang kau inginkan dariku untuk membalas budimu”. “aku tak menginginkan apa-apa. Aku cuma berpesan padamu lain kali hati-hati” jawab si jerapah. Akhirnya nyamukpun terbang bebas sambil melambaikan tanganya kepada jerapah.

Setelah lama berjalan jerapah merasa kelelahan. Tenggorokanya terasa kering dan perutnya sudah mulai keroncongan. Jerapah beristirahat di pinggir danau yang jernih dan sekelilingnya di tumbuhi rerumputan yang indah. Setelah melepas dahaga dan lapar, jerapah merasa ngantuk karna kekenyangan,jerapahpun tertidur. Tiba-tiba datanglah seekor buaya. “ehm...ada makanan lezat nich, lumayan buat santapan hari ini walaupun sedikit kurus”. Jerapah yang sedang tertidur lelap tak sadar kalau ada buaya didekatnya. Buaya menggigit kaki jerapah, jerapapun terbangun karna kesakitan. “Tolong...tolong...!!!” teriak si jerapah. Segerombolan burung bangau datang ketika mendengar jeritan si jerapah. Burung-burung tersebut mematuk-matuk si buaya, karna saking banyaknya burung tersebut akhirnya buaya kalah dan mati. Jerapah merasa lega karna nyawanya terselamatkan dan mengucapkan terima kasih pada bangau-bangau tersebut. “hai... bangau mengapa kau menolongku?” tanya jerapah”. “anggap saja sebagai imbalan balas budi karna kau dulu telah menyelamatkan saudara kami, ketika terluka sayapnya”. Si jerapah telah melupakan kejadian tersebut, karna tlah berlalu begitu lama dan dia tak pernah mengharapkan imbalan jika membantu sesama. Setelah bercengkeramah begitu lama dengan bangau-bangau tersebut, jerapah pamit untuk pulang karna hari telah mulai petang, Bangaupun mengiyakan.

Dalam perjalanan pulang jerapah merasa senang, karna tlah terselamatkan dari maut. Setelah tiba di pediaman jerapah istirahat. Sejak saat itu jerapah selalu hati-hati dalam langkahnya, seperti yang selalu terucap dari mulutnya ketika menyelamatkan sesama binatang.

Kamis, 30 Oktober 2008

sekilas tentang aku


Aku seorang wanita yang terlahir pada tanggal 25 Desember 1988 di Lamongan. sejak kecil sampai sekarang tinggal di lamongan trus (karna aku bukan orang yang nomaden hehehehe.....!!!), tapi gak tau yach tahun-tahun berikutnya. Aku suka merancang suatu rencana (penting gak yach tuk di tulis..?). Aku berjilbab (moeslim sejati gitu lho...!!!), keturunan jawa tulen (asli lho...!!!) gak ada blesteran blas. Aku terlahir di sebuah desa yang terpencil di Kabupaten Lamongan, biar ndeso...sing penting rejeki kuto rek...(cek sombonge...). Aku tak pilah pilih dalam pergaulan (sing penting wonge jujur karo duwe welas asih). Cita-citaku dari kecil adalah pingin jadi orang yang sukses dunia akhirat...Amin...!!!. Cukup sekian dulu sekilas tentang aku. Insya Allah kalau ada kesempatan lain kali di sambung lagi.

Senin, 27 Oktober 2008

belajar dari alam

Pisang.... kalau dengar kata pisang kita teringat pada buah yang murah meriah, enak, dan mudah ditemukan di pekarangan. Tapi sedikit dari kita yang memahami pesan tersembunyi dari pohon pisang. Kebanyakan dari kita hanya tahu pisang ya buah... yang pohonnya harus ditebang, batangnya dibuang, buahnya dimakan, kulitnya jadi sampah, dimakan selesai.. !

Tidak saudaraku !
Pisang diciptakan oleh Allah bukan hanya menjadi buah yang dinikmati, tapi ada rahasia besar yang akan membuat kita berkata Subhanallah - Maha Suci Allah !.

Pernahkah kita sekedar melongok ke kebun atau pekarangan rumah ? kalau belum ! cobalah sesekali, tapi bawalah sebilah golok yang tajam menemani anda, jika ada pohon pisang yang belum berbuah, tebaslah batangnya, dan tinggalkanlah !

Saudaraku.. ! janganlah berpikir pisang setelah ditebas dia akan mati layu dan tersungkur. TIDAK !!! ...... cobalah datang lagi beberapa hari lagi.
Kita akan terkejut, karena dari bekas tebasan golok kita, telah muncul bagian batang muda yang akan terus tumbuh dan tumbuh menggantikan batang pendahulunya. Kita belum puas.. ! tebas lagi... belum puas ! tebas lagi... terus seperti itu. Pisang akan menjawabnya dengan munculnya tubuhnya yang baru, yang lebih segar, dan selalu mengarah ke depan. Pisang akan terus menjawab tebasan golok kita, sampai kita bosan dan membiarkannya seperti sedia kala apa adanya.

Saudaraku... ! datanglah beberapa minggu kemudian. Kita akan terkejut karena pisang kita telah berbuah dengan sempurna. Kitapun berhasrat menikmati buahnya yang ranum. kali inipun tebaslah pohon pisang itu dan lihatlah beberapa hari kemudian. kita tidak akan melihat lagi tubuh baru dan daun baru, tapi yang tersisa adalah batang pisang yang membusuk.
Kenapa ?

Karena pisang sudah ikhlas dan menerima kematiannya setelah menghantarkan makna dan tujuan penciptaannya yaitu mempersembahkan buah pisang pada manusia.
Saudaraku ! apa rahasia dari semua ini. ! rahasianya adalah pisang mengajarkan kepada kita - yang katanya menjadi khalifah di muka bumi, agar dalam hidup dan menjalani hidup, kita tidak boleh berputus asa dan mudah menyerah apalagi untuk tujuan yang mulia. selagi tujuan baik kita belum tercapai, terus.... dan teruslah bekerja dan berusaha. sampai tercapai keinginan kita. dan jika semua itu telah tercapai kita pun akan ikhlas kembali kepada Allah. karena kita telah berbuat yang terbaik.

Saudaraku ..... belajarlah dari alam ! karena alam adalah salah satu ayat kauniyah Allah yang menyimpan pelajaran besar bagi kita. hingga kita sebagai manusia semakin bijak dan arif dalam kehidupan kita.

Ayo.... semangat Saudaraku !

Jumat, 24 Oktober 2008

Untukmu Kekasih...

Akhiku....
Masihkah menungguku…?

ehmm… menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?
Menunggu…
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang istimewa....
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa...
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu...
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat ...

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya...
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu...
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
ooikks, bukan berarti melamun alias ngayal dengan pikiran kosong...
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari dunia lain masuk ke jiwa...

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif...
Mumpung waktu kita masih banyak luang...
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga...
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak...
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak...

akhiku…
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah...
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti...
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu...
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu...
Aku akan disisimu, tapi mungkin tidak sekarang...
Karena jalan ini masih panjang...
Banyak hal yang menghadang...
Hatiku pun melagu dalam nada angan...
Seolah sedetik tiada tersisakan...
Resah hati tak mampu kuhindarkan...
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan...
Karang asaku tiadakan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan...
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan...
Keputusan besar untuk berada disisimu...

akhiku...

hapus keraguan di dalam hatimu...
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta...
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir...
Yakinlah…saat itu pasti akan tiba...
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu...
Karena aura keimananlah yang utama...
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga...
merasuk dan menembus relung jiwa...

Wahai pangeran duniaku...

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil...
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup...
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu...
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu...
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya...
Jika memang kau tak sempat bertemu denganku...
sungguh…itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci...


akhiku...
Skenario Allah adalah skenario terbaik...
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita...
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang...
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya...
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita...

akhiku…
Ku tahu kau merinduku, bersabarlah saat indah akan datang juga...
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan...
Apa kabarnya kau disana?
Lelahkah kau menungguku ?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana…


akhiku....
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir...
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera...
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang...
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong...
Jika di sana ada bintang yang menghilang...
mataku berpendar mencari bintang yang datang...
Kalau memang kau memilihku, tunggu saat indah itu...

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat...
Dan mendoakanmu agar kau selalu sehat, bahagi...
dan mendapat yang terbaik dari-Nya...
Aku tak pernah berharap, kau akan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini...
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup...
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini...
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau tuk dikagumi
Akulah orang yang akan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu

akhiku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu...
hanya bisa merindukanmu...
Dan tetaplah berharap, terus berharap...
Berharap aku akan segera disisimu...
Jangan pernah berhenti berharap...
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup...

Bila kau jadi suamiku kelak...
jangan pernah berhenti memilikiku...
dan mencintaiku hingga ujung waktu...
Tunjukkan padaku kau akan selalu mencintaiku...
Hanya engkau yang aku harap...
Telah lama kuharap hadirmu di sini...
Meski sulit, harus kudapatkan...
Jika tidak kudapat di dunia…
kan ku kejar engkau di pintu syurga...

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini...
untuk dirimu yang selalu bijaksana...
Aku goreskan syair sederhana ini...
untuk dirimu yang selalu mempesona...
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya...
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu...

Kau terindah di antara kumbang-kumbang yang pernah kulihat...
Begitu indah kau tercipta bagi kaum hawa...
Begitu gagah kau terlahir sebagai kaum adam...
Kau terindah yang pernah kukagumi...

Ya Allah…
ringankanlah kerinduan yang mendera...
kupanjatkan sepotong doa setiap waktu...
karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku...

Ya Allah…
ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini...
ringankan langkah kami...
beri kami kekuatan dan kemampuan...
tuk mengikuti sunnah RasulMu...
jangan biarkan hati kami...
terus berkelana tak berpenghujung...
yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan...
yang telah Engkau berikan...




Senin, 20 Oktober 2008

Semuanya Tinggal Sejarah

Puas aku pikirkan...

Masih dalam Samaran...

Apakah semuanya...

Tanpa penjelasan...


Telah aku korbankan...

Cuma hanya untukmu seorang...

Kesetianku tiada kau hargai...

Sedihnya...


Kini tiba masanya sayang...

Aku akan mengatur langkah...

Biarlah semuanya kita tinggalkan...

Hanyalah buat sejarah...


Masih teringat dan terkenang...

Percintaan yang penuh makna...

Terlalu dalam aku memendam rasa...


Selamat tinggal kasih...

Selamat tinggal sayang...

Tak ingin sejarah cinta terulang...

Luka masih terasa duhai sayang...