Sungguh sedih jika kita kehilangan orang yang kita cintai. Entah itu orang tua, saudara, kekasih ataupun yang lainya. Merana ataupun bersedih boleh...asal jangan berlebihan. Saudaraku...jika kesedihan tlah tertancap di hati, maka segeralah kita kembali ke sang khaliq, karna pertemuan dan perpisahan Allahlah yang mengatur.
Jika kita berpisah dengan sang kekasih entah karna sebab apapun, maka ikhlaskan dia. Berarti dia bukan jodoh kita. Ingat saudaraku...!!! rizki,maut dan jodoh Allah yang mengaturnya.
Manusia hanya bisa berencana, tapi tetap semua kembali padaNYA. Bagaimanapun rencana kita jika Allah tak menghendaki ya tak akan terjadi, tapi...jika Allah telah berkehendak sejauh mana kita menghindar ya pasti akan terjadi.
Saudaraku...tapi kita juga tak boleh pesimis. Jangan pernah ada kata menyerah sebelum kita bertindak. Tanamkan sifat optimis di qalbu kita. Insya Allah kita akan memperoleh ketenangan jiwa. Jika usaha kita gagal baru kita pasrahkan semuanya pada Allah. Kegagalan adalah kunci keberhasilan, jadi sebenarnya setiap kegagalan adalah awal dari kesuksesan kita (kesuksesan yang tertunda). Ayo saudaraku semangat...!!!!

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
BalasHapus(Q.S. Al An'aam : 59)
pertemuan ...
perpisahan ...
kehidupan ...
kematian ...
sudah ditentukan oleh-Nya ...
TIDAK SATUPUN manusia yang bisa menghindar dari ketentuan itu ...
sehebat apapun dia ...
inilah yang disebut anggukan universal ...
mau atau tidak mau ...
percaya atau tidak percaya ...
manusia PASTI tunduk pada Alloh ...
walaupun dia kafir padaNya ....
walaupun dia atheis ...
dan hanya mempercayai rasionya ...
ketika musibah itu menimpa ...
kesedihan pasti melanda ...
ketika maut datang menjemput ...
duka pasti menggelayut ...
jiwa ini milikNya ...
raga ini anugerahNya ...
kita hanya menikmati ...
tanpa mampu mempertahankannya ...
andai jiwa ini milik manusia ...
mengapa manusia tak mampu menahannya ...
saat roh dicabut dari tubuh ...
saat jiwa kembali kehadiratNya ..
setiap pertemuan ....
BalasHapuspasti ada perpisahan ...
itulah kehidupan ...
hidup hanyalah sandiwara ...
saat ini kita berkuasa ...
saat ini kita kaya raya ...
namun selanjutnya ...
dalam hitungan detik ...
semua itu akan sirna ...
lenyap tak berbekas ...
wahai diri yang papa ...
mengapa kamu bangga dengan apa yang menempel ditubuhmu ...
bajumu yang bagus ...
wajahmu yang rupawan ...
hanyalah topeng ...
harta kekayaanmu ...
rumah mewah yang kamu banggakan ..
mobil mutakhir yang selalu kau pamerkan ...
hanyalah topeng ...
istrimu yang cantik ...
anak-anakmu yang lucu ...
dan segala hiasan yang membuat kamu lalai padaNya ...
hanyalah topeng ...
kelak mereka semua harus kamu pertanggungjawabkan ...
dihadapan pengadilan Sang Maha Adil ...
kalau harta itu kamu peroleh dengan cara yang jujur ...
dari rejeki yang halal ...
maka kamu akan ditanya ...
untuk apa harta itu kamu gunakan ...
untuk jalan kebaikankah ... ?
atau sebaliknya ....
untuk bermaksiat pada Alloh ..?
sungguh kelak kamu akan menyesal ..
sedalam-dalamnya ...
kalau harta yang diamanahkan kepadamu ...
justru membuat kamu jauh dari Nya ...
dari Sang Maha Pengasih ...
apalagi ...
bila harta itu kamu peroleh dari jalan yang tidak baik ...
korupsi ...
kolusi ...
nepotisme ...
kau tumpuk harta dengan menghisap darah rakyat ...
kau lahap uang negara untuk perkaya dirimu sendiri ...
niscaya kamu akan sangat merugi ...
niscaya kamu akan sangat menyesal ...
menyesal mengapa menjadi manusia durhaka ...
karena api neraka akan meluluhlantakkan tubuhmu ...
karena adzab Alloh akan mengahancurkanmu ...
kamu akan melolong ....
menangis ...
memohon ampun ...
kamu akan berteriak histeris ...
tak kuat menahan siksa yang amat pedih ...
api itu akan melelehkan tubuhmu ...
lalu kamu utuh lagi ...
lalu api itu melahapmu lagi ...
terus menerus ... tiada ampun ...
selama-lamanya ...
belum lagi tuntutan dari rakyat ..
seluruh rakyat yang kau sakiti hati mereka ...
yang ketika hidup kau buat mereka menderita ...
kelaparan ...
kedinginan ...
mereka akan menuntut keadilan ...
dan Tuhan Yang Maha Adil ...
akan berlaku seadil-adilnya ...
pahala yang pernah kamu peroleh ...
sholatmu ...
puasamu ...
zakatmu ...
hajimu yang kamu kerjakan setiap tahun ....
umrohmu yang kamu lakukan tak terhitung ...
dan shodaqohmu yang besarnya membuat orang berdecak kagum ...
akan ditransfer ...
diberikan kepada orang-orang yang pernah kamu sakiti ...
lalu ketika semua pahala itu sudah habis ...
dosa mereka akan ditransfer padamu ..
bayangkan dosa semua rakyat yang jumlahnya jutaan ini akan dibebankan padamu ...
sampai kamu tak mampu lagi menanggungnya ...
sampai kamu termehek-mehek karena beratnya beban itu ...
pediiiihhhh ....
sakiiittt .....
beraaaaatttt ...
dan tak seorangpun bisa menolongmu ...
istrimu ... yang dulu kamu banggakan karena kecantikannya ... hanya bisa membisu ...
anak-anakmu ... yang selalu kamu beri uang harammu ... hanya bisa termangu ...
apalagi tangan kananmu dan para sahabatmu ... orang-orang yang dulu
begitu bangga dekat denganmu ...
mereka semua akan berlari ...
menjauh ...
dan tak mau lagi dekat denganmu ...
kamu akan terpuruk sendiri …
terhina …
tak berharga ….
Kau coba bertahan ....
BalasHapusrasa sakit yang menghunjam di dada tak kamu hiraukan ...
kamu mencoba tetap tersenyum ...
tuk hilangkan rasa khawatir yang membuncah di dada istri dan anak-anak kesayanganmu ..
wajahmu pucat ....
tak nampak lagi wajah gagah yang biasanya ditakuti bawahanmu ...
wajah garangmu hampir tak tersisa ...
semua seolah sirna .....
tak berbekas ...
terbayang dimatamu ... ketika kamu berdiri bertolak pinggang ...
ledakan amarah seolah sebagai simbol ...
kamu pimpinan perusahaan yang disegani semua orang ...
kini ... ketika kanker ganas itu menyerang ...
kamu hanya bisa tergolek lemah ...
kesombonganmu telah lenyap ...
keangkuhanmu tak tersisa ...
kamu mulai sadar ...
ternyata uang bukan segalanya ...
nafasmu mulai tersengal ...
satu ... satu ...
begitu berat udara kamu hirup ...
segala peralatan telah diberikan ...
namun ... dada semakin sesak ...
mulutmu mulai terkunci ...
kamu tak lagi mampu bersuara ...
istri dan anak-anakmu hanya menangis ...
mereka tak mampu berbuat apa-apa ..
Tuhan ...
jangan cabut nyawaku ....
beri aku waktu beberapa saat lagi ...
agar aku bisa berbuat kebajikan ...
agar aku bisa beribadah ...
Tuhan ijinkan aku berbuat baik pada setiap orang ... kolegaku di kantor ... tetangga yang tak pernah kukunjungi ...
Kakimu mulai dingin ...
dadamu semakin sesak ...
dokter dan perawat nampak kebingungan ...
kamu mencoba bicara ... tapi mulutmu terkunci ...
dan bayangan putih itu muncul ...
malaikat izroil ... menjemputmu ...
lalu tercabutlah nyawamu ...
berpisah dari jasad yang selama ini kamu kagumi ...
tubuhmu terbujur kaku ...
dikelilingi istri dan anak-anakmu yang menangis sedih ...
akhirnya kamu dimandikan ...
lalu sehelai kain kafan menutupi wajahmu ...
tak ada jas mewah yang biasanya kamu kenakan ...
tak ada kemeja dan dasi mahal kebanggaanmu ...
semua kamu tinggalkan ...
lalu kamu disholati ...
lalu tubuhmu dimasukkan ke liang lahat ...
kamu hanya pasrah ...
kamu tak mampu berbuat apa-apa ...
istri cantik yang kamu puja-puja tak mau mengikutimu ...
anak-anak lucu ... yang menjadi kebanggaanmupun kamu tinggalkan ...
apalagi sekedar anak buah, teman ... atau sahabat ...
mereka semua pergi meninggalkanmu ...
kamu bukan siapa-siapa lagi ...
kamu hanya sesosok mayat ...
yang tak bermanfaat bagi mereka ...
kamu menangis ...
kamu berusaha berteriak ...
istriku ....
anak-anakku ...
temanku ...
kemana kamu ???
mengapa kamu pergi ...
sini ... kesinilah sayang
temani papa disini yah ...
papa takut sendiri ...
disini sempit ...
disini gelap ...
aku takuutttttttttttttttttttt
teriakanmu tak ada yang mendengar ...
semua pergi meninggalkan dirimu ..
sendiri ...
dalam kegelapan ..
dan dingin yang menyengat ...
untuk waktu yang lama ...
entah sampai kapan