Sabtu, 29 November 2008

Doa Seorang anak

Ada tiga amalan....
Yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana. Doa anak sholeh atau sholehah itulah salah satu amalan yang dimaksudkan.

Ya...doa anak sholeh dan sholeha mampu meringankan beban siksa orang tua di alam kuburnya. Mampu menambah timbangan ibu bapaknya kelak ketika semua amalan telah terputus dari raga, kecuali amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak mulia.

Sungguh berbahagia orang tua yang punya anak sholeh dan sholehah seolah investasi maha besar telah ditanamkan dengan bunga berlipat ganda yang terus mereka petik walau sudah meninggalkan dunia.

Sebelum terlambat...marilah segera kita ingat, untuk segera mempersiapkan anak-anak kita nantinya menjadi anak sholeh dan sholehah yang selalu mendoakan orang tuanya yang sudah tiada dan selalu memohonkan ampun ibu bapaknya kepada sang khaliq.

AL FAATIHAH

ayat ke-6 dan -7


" Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-
orang yang telah engkau anugerahkan ni'mat kepada
mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan
pula jalan mereka yang sesat "


Dalam terjemahan depag kata "tunjukilah" (ihdina) yang berasal
dari kata "hidayaat" juga mempunyai makna memberi taufik.
Orang-orang yang dianugerahkan ni'mat, dijelaskan dalam surat
An Nisaa':69,

" ...orang-orang yang dianugerahkan ni'mat oleh Allah yaitu;
nabi-nabi, para shiddiiqiin (yang amat teguh kepercayaannya
kepada kebenaran Rasul), orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang yang sholeh ",

sedang mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat dalam catatan
kaki terjemahan depag dimaksudkan sebagai semua golongan yang
menyimpang dari ajaran Islam.

Ayat penutup dari ummul Qur'an ini, yang selalu kita baca
saat shalat, merupakan do'a dan permohonan kita pada Allah Aza
Wa'zala, agar Dia menunjuki kita jalan para nabi dan para shiddi-
qiin, para syuhada dan para sholihin, jalan yang lurus menghadap
Allah, jalan yang mulia, jalan yang telah ditempuh Ibrahim AS,
Isa putra Maryam, dan Muhammad SAW. Jalan seperti apakah ini ?

Jalan para nabi Allah adalah jalan yang mendaki lagi sukar,
jalan yang banyak mengeluarkan banyak keringat dan darah, jalan
yang penuh dengan celaan dari orang-orang yang suka mencela,
jalan yang penuh fitnah dan dengki dari orang-orang yang suka
memfitnah, jalan dimana makar, caci-maki, teror, tekanan, hasutan,
dan bujuk-rayu menyesatkan merupakan duri-duri yang merealitas.
Jalan yang bukan saja kelaparan, kedinginan, dan kesengsaraan-
kesengsaraan lain menghadang, namun juga jalan dimana was-was
menyusup menikam hati dan mencekam jiwa. Jalan yang diliputi
dengan perjuangan dan pengorbanan panjang, kesengsaraan dan
penderitaan yang meletihkan jiwa, serta cobaan yang datang bertubi-
tubi, sehingga dapat membuat jiwa bimbang, perasaan putus asa,
dan hati menjadi goncang. Sebagaimana dilukiskan surat
Al Baqarah:214,

"...Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digun-
cangkan dengan bermacam-macam ujian sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang beriman bersamanya, ' Bilakah datangnya per-
tolongan Allah ?' Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat "

Bayangkan ! betapa berat goncangan dan kesengsaraan dalam jalan
ketaqwaan ini, sehingga Rasul dan para shiddiqiin, yang yakin akan
kebenaran Rasul, sampai berkata " Bilakah pertolongan Allah ?"
" Kapan pertolongan Allah datang ?".

Itulah jalan yang lurus, jalan yang kita mohonkan pada Allah,
agar kita dianugerahkan untuk menapakinya. Do'a ini kita ulangi
terus-menerus dalam shalat-shalat kita dengan lancar dan kesadaran
penuh, dengan sungguh-sungguh. benarkah kita telah sungguh-sungguh
dan dengan penuh kesadaran ingin mengarungi jalan itu ? Fahamkah
kita akan tajamnya duri di jalan itu ?

Islam, agama ini hanya memiliki satu jalan, jalan yang lurus,
jalan ketaqwaan, jalan yang mengajak manusia untuk memerdekakan
diri dari setiap ikatan yang tak bersumber pada ikatan ilahiah,
jalan yang mengajak manusia untuk memberikan loyalitas penuh
kepada Rabb, Khalik, dan Malik manusia. Jalan yang memuliakan
manusia dan kemanusiaan, jalan yang menihilkan penghambaan manusia
atas manusia, penghambaan manusia atas hawa nafsu, jalan yang
aktif dan penuh motivasi, bukan jalan orang-orang yang mudah
menyerah. Agama ini mengajarkan partisipasi aktif di dalam pene-
gakkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab serta
mengembalikan perikemanusiaan seluruhnya dari kelenyapannya.
Agama ini mengajarkan manusia untuk hidup dalam masyarakatnya,
mengarahkan, dan berjuang untuk terus-menerus menentang arus yang
mengarahkan pada kesesatan dan kerendahan. Inilah tugas kekhalifahan
di bumi, tugas untuk hanya membesarkan nama Allah dan tidak nama
selain Allah, tugas untuk hanya meninggikan nama Allah dan tidak
yang lain, tugas untuk menjadi hamba, budak tak berharga, tugas
untuk menjadi prajurit pembela agama Allah, pembela agama Allah
hingga air mata menjadi kering, keringat menjadi asin, darah menjadi
putih, pembela agama Allah dan mencari ridla Allah, meski sejuta
orang menyatakan kita bodoh dan tak faham zaman. Inilah jalan yang
lurus jalan para nabi dan shiddiiqiin.

Melepaskan diri dari tantangan dan hambatan, menghindar dari
jalan yang terjal lagi mendaki amatlah mudah dan tidak sulit.
Mengurung diri atau bertapa serta segala panteisme lain bukanlah
khas agama ini. Agama ini penuh dengan sifat kepemimpinan, tampil
kedepan, dan perjuangan, agama yang menilai tinggi usaha/ikhtiar/
perjuangan. Agama yang siap menghadapi tantangan dan bukan lari
dari medan laga kesengsaraan. Agama ini bukan agama untuk kaum
pengecut atau pemberani gaya Don Quisot (yang tanpa perhitungan),
namun agama yang telah dirancang Allah untuk ummat pilihan, yang
akan memberi rakhmat kepada alam. Inilah agama yang lurus, agama
Ibrahim AS, Agama Isa putra Maryam, dan agama Muhammad SAW.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang
yang engkau beri ni'mat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai
dan sesat. Tunjukillah kami jalan ketaqwaan, jalan yang Engkau
ridhai. Kuatkanlah hati kami untuk menapakinya, mantapkanlah
hati kami, dan masukanlah kami ke dalam golongan para shalihin,
amien.

Kamis, 27 November 2008

Syariat Islam Mengenai Cinta Dan Menikah Tanpa Cinta

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT didalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Allah SWT, yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta Adalah Fitrah Yang Suci


Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu untuk dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Islam membersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Menikah Tanpa Cinta


Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist

Firman Allah SWT, yang artinya: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya” (QS. Al Baqarah: 232)

“Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah SAW memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

Selain itu seorang yang akan menikah hendaknyalah melihat dulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: “Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya” (HR. Imam Ahmad)

Memang benar dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Allah SWT. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam menyikapi problematika rumah tangga nantinya.


Rabu, 26 November 2008

Istiqomah

Alangkah mudah mengucap satu kata ini. begitu mudah mengharapkan orang lain ber_istiqomah saat kita sedang berada diatas. ketika sedang terpuruk seakan lupa akan omongan kita,…. astaghfirullah…

Rasulullah pun mewanti-wanti, sebuah amalan yang paling berat untuk dilaksanakan adalah istiqomah, tidak perlu “bernafsu” beramal sebanyak-banyaknya lalu mlempem di hari berikutnya, tetapi sedang dan istiqomah lebih dicintai dari pada banyak lalu drop!. lebih baik banyak dan istiqomah… ehmmmmm

istiqomah, yaa istiqomah, menjadi salah satu indikasi keikhlasan seseorang dalam beramal, sekali lagi indikasi, bukan berarti yang tidak istiqomah tidak ikhlas. toh keikhlasan itu hanya Allah yang tahu.

Marilah mulai dari sekarang kita mengoreksi diri....

semangat...semangat...!!!

Senin, 24 November 2008

Pergaulan Dalam Islam

Seandainya diteliti kepada keseluruhan agama samawi, maka kita akan dapati bahwa semuanya mengharamkan perzinaan. Kalau ditinjau dari segi logikanya perzinaan itu dapat menjurus kepada pengaburan masalah keturunan, menghancurkan rumah tangga, meretakkan hubungan, menimbulkan penyakit dan lain-lain.
Islam, sebagai suatu agama yang syumul, apabila mengharamkan suatu perkara, maka ditutupnya jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa saja perkara yang menjadi mukaddimah kepada suatu pekerjaan yang haram itu.

PERGAULAN BEBAS ADALAH HARAM
Diantara perkara yang diharamkan oleh Islam adalah berduaan dengan seorang perempuan lain (bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dinikahi untuk selama-lamanya, seperti ibu, kakak-beradik, ibu saudara dan sebagainya). Ini bukanlah berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satu daripadanya tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan yang tidak baik yang lazimnya lahir apabila dua insan yang berlawanan itu bertemu, tanpa ada orang ketiga.
Seperti sabda nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad,” Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia berduaan dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya, karena yang ketiga adalah syaitan. ”Manakala dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang maksudnya, ”Hindarilah keluar masuk rumah seorang perempuan. Kemudian ada seorang lelaki ansar bertanya: Ya Rasulullah. Bagaimana pendapatmu tentang ipar? Maka jawab nabi, berduaan dengan ipar itu, sama dengan menjumpai mati.”
Ketahuilah bahwa semua larangan nabi ini adalah demi menjaga keharmonisan dan kesejahteraan masyarakat. Mungkin kita akan merasa berdosa apabila melakukan sesuatu kejahatan terhadap orang lain tetapi pernahkah kita berfikir seandainya sesuatu kejahatan itu dilakukan terhadap kita, adakah kita akan berdiam diri? Seperti dalam suatu kisah di zaman nabi Muhammad s.a.w. Seorang pemuda yang baru memeluk Islam datang kepada nabi lalu meminta izin untuk berzina. Lalu nabi bertanya kepadanya, maukah kamu seandainya seseorang itu berzina dengan ibumu atau saudara perempuanmu? Selepas dari peristiwa tersebut, perkara yang paling dibencinya adalah zina.

MELIHAT LAWAN JENIS DENGAN BERSYAHWAT
Diantara suatu perkara yang diharamkan oleh Islam ialah gharizah yaitu pandangan seorang lelaki terhadap perempuan dan begitu juga sebaliknya. Mata adalah kunci hatinya dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina. Seperti kata seorang penyair arab,” Semua peristiwa asalnya karena pandangan, Kebanyakan orang masuk neraka adalah karena dosa kecil. Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lalu memberi salam, kemudian berbicara, lalu berjanji. Dan sesudah itu ia bertemu.”
Lantaran itu, Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya di dalam surat AnNur, ayat 31-32 agar menjaga pandangannya diiringi dengan perintah untuk memelihara kehormatan dirinya. Sesungguhnya pandangan yang terpelihara ialah apabila memandang kepada lawan jenis, tidak melihat karena kecantikannya atau ketampanannya dan tidak terlalu lama melihatnya serta tidak melekat pandangannya kepada yang dilihatnya itu. Oleh itulah, nabi berpesan kepada Saidina Ali yang bermaksud,”Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan yang lainnya. Kamu hanya boleh melihat pada pandangan yang pertama, jika ada pandangan yang berikutnya tidak diperbolehkan.” (HR Ahmad)
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lawan jenis sebagai suatu perbuatan “zina mata”. Sabda baginda lagi yang maksudnya, ”Dua mata itu bisa berzina dan zinanya adalah melihat.(HR Bukhari) Ia dinamakan berzina karena memandang itu adalah salah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan nafsu syahwat dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Larangan Allah ini bukanlah sesuatu yang tidak bermanfaat dan sia-sia karena pandangan yang terdorong oleh nafsu ini bukan saja membahayakan kemurnian budi bahkan akan merusak kestabilan berpikir dan ketenteraman hati.
Maka berkatalah seorang penyair:”Apabila engkau melepaskan pandanganmu untuk mencari kepuasan hati.Pada suatu saat pandangan-pandangan itu akan menyusahkanmu jua. Engkau tidak mampu melihat semua yang kau lihat. Tetapi untuk sebagainya maka engkau tidak bisa tahan.”

HARAM MELIHAT AURAT
Di antara yang harus ditundukkan pandangan, ialah aurat. Karena Rasulullah saw telah melarang walaupun antara sesama laki-laki dan antara sesama perempuan untuk memperlihatkan aurat masing-masing, walaupun dengan ada syahwat ataupun tidak. Sabda nabi saw, “Seseorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain ...” (Hadis Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi). Aurat lelaki yang tidak boleh dilihat oleh lelaki atau aurat perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan ialah antara pusat hingga ke lutut.
Manakala aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki ialah seluruh badannya kecuali muka dan tapak tangan.


Kamis, 20 November 2008

ISLAM: SATU-SATUNYA ALTERNATIF

Kemerosotan peranan politik dan peradaban Islam tidaklah menyebabkan
hilangnya system ajaran Islam sebagai suatu system nilai (value system) yang
telah merasuk pada qolbu Muslimin, dan bahkan memberikan terobosan tumbuhnya
embrio peradaban Barat modern. (Betapa banyak warisan kebudayaan Islam yang
diambil alih dan di'claim' sebagai milik Barat). Sebagai system ajaran, Islam
tetap memiliki alternatif satu-satunya bagi manusia yang ingin selamat
dunia maupun akhirat. Islam juga akan tetap menjadi satu-satunya alternatif
peradaban modern ummat manusia, pada hari ini dan hari depan. Secara
konsepsional, Islamlah yang paling layak untuk menggantikan seluruh konsepsi
spiritual yang telah ada. Hujjah tekstual tak usah dipertanyakan lagi.
Semuanya bisa dilihat dan dikaji kebenarannya dari sumber-sumber pokok ajaran
Islam, yaitu al_Qur'an dan as_Sunnah. Adapun hujjah intelektual ditangan
pada peninjau yang dianggap 'netral', dengan mengikuti disiplin ilmiah
tertentu, menyatakan tentang keunggulan Islam dan memperoleh pensubstitusian
sehingga bebas dari kesan apologetik apapun.

Contok tinjauan netral ini dilakukan oleh Ernest Gellner, seorang
sosiolog agama. Gellner menunjukkan bahwa tradisi agung dalam Islam tetap
bisa dimodernkan (modernizable) tanpa perlu memberi konsesi kepada pihak
luar. Dan ini merupakan kelanjutan dialog ummat Islam sendiri sepanjang
sejarahnya. "Diantara berbagai agama yang ada", kata Gellner, "Islam
adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan sistem keimanannya dalam
abad modern ini, tanpa banyak gangguan doktrinal. Dalam Islam, dan hanya
dalam Islam", lanjut Gellner, "pemurnian dan modernisasi di satu pihak,
dan peneguhan kembali identitias ummat di pihak lain, dapat dilakukan
dalam satu bahasa dan perangkat yang sama. Dunia Islam memang tidak
begitu gemilang menerobos dan mempelopori ummat manusia memasuki abad
modern. Tetapi karena watak dasar Islam sendiri, kaum Muslimin mungkin
justru menjadi kelompok manusia yang memperoleh manfaat terbesar dari
kemoderenan dunia. Tentunya kemoderenan disini bermakna kamajuan
teknikalisme. Dengan kata lain, kunci keberhasilan Islam memasuki abad
kegemilangannya terletak pada peneguhan kembali Warisan Syariah yang
tak pernah lapuk. Kekokohan struktural harus dibangun di bawah, serta
kemampuan mengambil alih dan merebut teknikalisme yang dimonopoli
Barat".

Sementara itu, optimisme di kalangan ummat tentang kebangkitan Islam,
bukanlah optimisme yang tanpa alasan, terutama berkaitan dengan potensi
besar yang dimiliki kaum Muslimin, yaitu:

Pertama, potensi Syariah Islam itu sendiri sebagai warisan
kemanusiaan yang diberikan oleh Allah SWT. Warisan yang tak pernah lapuk.
Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang masih terpelihara originalitasnya
(asholah), kecuali Islam. Lebih dari itu, Islamlah satu-satunya agama yang
sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.

Kedua, potensi penduduk Muslim yang berjumlah kurang lebih satu per
empat milyar jiwa. Ini berarti seperlima penduduk dunia adalah Muslim.
Islam adalah agama yang paling muda, yang jumlah pengikutnya sebanding,
bahkan melebihi agama-agama lain yang lebih tua, seperti Nasrani dan Yahudi.
Meski gelombang politik Islam naik turun, tetapi jumlah penduduknya - secara
global - tidak pernah berkurang. Islam ibarat air, senantiasa mencari tempat
yang rendah untuk mengalir.

Ketiga, potensi sumber-sumber kekayaan alam yang melimpah di negeri-
negeri Muslim, khususnya minyak bumi dan sumber-sumber mineral lainnya.
Potensi minyak bumi yang berada di negara-negara Teluk, di Aljazair, Brunei
Darussalam, Indonesia, dan seterusnya. Bahkan di wilayah Sovyet (pen. former)
dan RRC pun ditemukan sumber-sumber minyak yang ditempati kaum Muslimin
Sovyet (pen. former) atau kaum Muslimin RRC. Memang Allah SWT. telah
menyediakan energi material dan immaterial untuk membantu kaum Muslimin,
membangun dan memanfaatkan untuk menegakkan agama-Nya, sekaligus memadamkan
berbagai pemberontakan terhadap Allah SWT. di berbagai penjuru dunia ini.

Keempat, potensi warisan sejarah. Islam pada masa lampau telah
berjaya memegang kendali peradaban lebih dari tujuh abad lebih. Belum
pernah ada satu agama maupun ideologi yang mampu mengembangkan peradaban-
nya melebihi dari Islam. Peradaban Barat pun hari ini baru berumur kurang
lebih 450 tahun. Jika Muslimin pada masa lampau menguasai peradaban,
tentu bisa juga untuk masa depan.

Kelima, janji Allah SWT. yang tidak pernah diingkari. Bahwa Allah
akan mengembalikan kekhalifahannya di muka bumi kepada orang-orang yang
beriman. (Al Qur'an surat 24:55)


Rabu, 19 November 2008

Pengalaman Masa kecil

dulu... ketika aku masih duduk di bangku SD, aku punya teman karib namanya dwi cahyani. Kemanapun kami pergi selalu bersama. Kami berpisah semenjak duduk di bangku SMP. Dwi diterima di SMPN 1 Lamongan, sedangkan aku tidak, aku hanya masuk di SMPN 2. kami jarang bertemu karena dwi kost, sedangkan aku pulang pergi ke rumah walaupun kami satu desa.

Masih teringat banget kenangan-kenangan indah diwaktu kecil bersama sahabatku. Setiap berangkat sekolah aku jemput dia, karna rumahku yang paling jauh sedangkan dwi lebih dekat dari sekolah. Pulang sekolahpun kami selalu bersama, sering juga kami mampir ke sawah tuk ambil mentimun, walaupun itu bukan mentimun punya kami (kami nakal yach). Sampai-sampai dulu pernah ketahuan sama yang punya sawah tersebut. Kami tersentak lalu lari terbirit-birit, karna takut dimarahin. Kami yang masih kecil kalah lari sama yang punya, akhirnya kami tertangkap dan dilaporkan kekepala sekolah. Keesokan harinya kami dihukum berdua. Kami di suruh berdiri didepan tiang bendera sambil memberi hormat sampek jam 10 pagi. Kejadian ini ketika kami masih duduk di kelas 2 SD. Sorenya kami ngaji bersama di TPA, sedangkan malamnya ngaji di masjid. Pokonya kami tuh sibuuuuukkkkk banget, jarang di rumah. Pulang sekolah kami makan, lalu pergi ke masjid sampek nunggu waktu ngaji, kalau sudah jam 2 siang kami pergi ke TPA, tapi sebelumnya pulang dulu untuk mandi. Jam 4 sore kami pulang lalu mandi dan makan, kemudian berangkat lagi ke masjid sambil nunggu maghrib. Usai melaksanakan sholat maghrib kami ngaji yang di bimbing oleh ustadz mukhlisin. Kejadian ini berlangsung sampek kami lulus SD (tapi mencurinya nggak, cmn 3 kali waktu kami kelas 2...lha yang ketiga ketahuan...hehehehehe....).

Dwi....dimana kamu sekarang shobat? Apakah kau mendengar tangisan rindu sahabatmu ini. Ingatkah kamu dengan kenangan getir dan manisnya persahabatn kita. Mengapa kau menghilang sobat..?. semenjak keluargamu pindah dari desa, aku tak pernah melihatmu lagi. Semoga kau baca rintihanku ini. Semoga kau baik-baik saja dimanapun berada. Aku tak akan melupakanmu dan persahabatan kita.