Selasa, 11 November 2008

Fatimah binti Muhammad SAW

Fatimah adalah "ibu dari ayahnya." Dia adalah puteri yang

mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para makhluq Rasulullah
SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.
Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada
ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab,
hasab dan nasab.

Fatimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi' dan
Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kul-
tsum. Dia adalah anak yang paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau
bersabda :"Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga
menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." [Ibnul
Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]

Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni
syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil'aalamiin, dan ibu dari
Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :"Keturunan Zainab
telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti
Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya ber-
kata :"Ya, Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah
dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." ["Siyar
A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]

Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :"Datang Fatimah kepada
Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :
"Ucapkanlah :"Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung.
Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat,
Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih. Aku berlindung kepada-
Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya. Engkau-
lah awal dan tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau-lah yang akhir dan tiada
sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin dan tiada sesuatu di bawah-
Mu. Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan." (HR. Tirmidzi)

Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri
dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa
ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-
wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin.
Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW,
Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanydengan air, sehingga darah
semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia
mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka
itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar." (HR. Syaikha dan
Tirmidzi) Dalam kancah pertarungan yang dialami ut kita, tampaklah
peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi
Muslim masa kini.

Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra', puteri Nabi
SAW, di tengah-tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah panggung
yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman-tikaman tombak dan pukulan-
pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin untuk
menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit. Inilah gambaran
lain dari pute sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan kepadada para
pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas yang tidak
dapat dipenuhi.

Ali r.a. berkata :"Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak
mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu
malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari.
Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu." Ketika Rasulullah SAW
menikahkannya (Fatimah), belmengirimkannya (unta itu) bersama satu
lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum,
sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum
itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit)
berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu
bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah
dia, Az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.

Fatimah selalu berada di sampingnya, maka tidaklah mengherankan
bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang
penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, "ibu ayahnya, Muhammad", Al-
Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra' (yang ce-
merlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi
keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa payah,
dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keuta-
maan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah' r.a. dia berkata :

"Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu
datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan
Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya
berkata :"Selamat datang, puteriku." Kemudian beliau mendudukkannya di
sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah
menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW ber-
bisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu
aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara
khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!" Ketika Nabi
SAW pergi, aku bertanya kepadanya :"Apa yang dikatakan Rasulullah SAW
kepadamu ?" Fatimah menjawab :"Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasul
Allah SAW." Aisyah berkata :"Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata
kepadanya :"Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah
kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?" Fatimah pun
menjawab :"Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali
kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa
bacaannya terhadap Al Qur'an sekali dalam setahun, dan sekarang dia
memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah
kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahului-
mu." Fatimah berkata :"Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau
lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku,
dan berkata :"Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin
wanita-wanita kaum Mu'min atau ummat ini ?" Fatimah berkata :"Maka aku
pun tertawa seperti yang engkau lihat."

Inilah dia, Fatimah Az-Zahra'. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi
mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingg berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga
berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.
Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia ber-
kata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :"Bantulah pekerjaan
puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil air, sedangkan dia akan men-
cupimu bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung, membuat roti
dan menggiling gandum."

Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah
datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya
bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya." Kemudian
Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadanya :"Apa
sebabnya engkau datang, wahai anakku ?" Fatimah menjawab :"Aku datang
untuk memberi salam kepadamu." Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya,
lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya :
"Apakah keperluanmu ?" Fatimah diam.

Ali r.a. lalu berkata :"Aku akan menceritakannya kepada Anda,
wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga
berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku me-
nyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa mem-
bantunya guna meringankan bebannya."

Kemudian Nabi SAW bersabda :"Demi Allah, aku tidak akan memberikan
pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah
merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku
jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada mereka
ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala,
tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menuti kaki, tampak kepala-kepala
mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :"Tetaplah di tempat
tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada
apa yang kalian minta dariku ?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi SAW bersabda:
"Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucap-
kan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali
dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah
33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali."

Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah
Fatimah menimang-nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :"Anakku
ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali."

Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika
ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata :
"Aduh, susahnya Ayah !" Nabi SAW menjawab :"Tiada kesusahan atas Ayahanda
sesudah hari ini." Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata :"Wahai,
Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai, Ayah, di surfa Firdaus
tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya."

Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam
Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmi-
dzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata :"Kami tidak mengetahui
seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah SAW yang lebih banyak me-
riwayatkan darinya selain Fatimah."

Fatimah pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais tentang tubuh
yang kurus. Dia berkata :"Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?"
Asma' menjawab :"Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita
dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan." Maka Fatimah menyuruh
membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda
itu, maka dia berkata :"Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi
aurat kalian." [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar A'laamin
Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far]

Ibnu Abdil Barr berkata :"Fatimah adalah orang pertama yang
dimasukkan ke keranda pada masa Islam." Dia dimandikan oleh Ali dan
Asma', sedang Asma' tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a.
berdiri di kuburnya dan berkata :

Setiap dua teman bertemu tentu
akan berpisah
dan semua yang di luar kematian
adalah sedikit kehilangan satu demi satu
adalah bukti bahwa teman itu
tidak kekal

Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran,
mata dan hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat
hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya. Ketika Nabi SAW
terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah
menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah
langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air
dan membasuh mukanya.

Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut
menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan
kulihat Az-Zahra' a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya
dengan cinta dan kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra',
puteri Nabi SAW, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika
keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu
Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin r.a. dan mengangkut
air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi
makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah SWT.

Shafiyah binti Abdul Muththalib, Saudara Hamzah

Dia adalah saudara ayah Rasulullah SAW dan ibu Az-Zubair bin

Awwam serta saudara kandung Hamzah, Singa Allah, paman Nabi SAW dan
orang yang dicintainya. Dia masuk Islam bersama kelompok pertama yang
beriman kepada Nabi SAW yang mulia dan ikut hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Wanita yang Sabar dan Mengharapkan Pahala

Sedikit di antara wanita-wanita Arab yang dapat menandinginya
dalam hal kemuliaan asal atau kemuliaan cabang. Allah SWT memberinya
kekuatan iman dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, dan kesediaan
berkorban di jalan-Nya. Dia adalah contoh bagi saudara perempuan yang
sabar dan mengharap pahala serta ridho dengan keputusan Allah SWT.

Dalam perang Uhud, ketika para juru panah meninggalkan posisi
mereka untuk mengambil harta rampasan perang dengan melanggar perintah
Nabi SAW, datanglah musuh mereka dari belakang menyerangnya. Pada waktu
itu Hind binti Utbah, suami Abi Sufyan dan ibu Khalifah Muawiyah telah
keluar bersama pasukan musyrikin untuk membalas dendam atas kematian
ayah dan pamannya yang dibunuh Hamzah dalam Perang Badr.

Dia membujuk budaknya, bernama Wahsyi, bahwa jika dia berhasil
membunuh Hamzah, maka dia akan mendapat imbalan harta sebanyak yang
disukainya. Maka terjadilah apa yang diinginkan oleh Hind. Wahsyi dapat
berhasil melempar Hamzah dengan tombaknya, sebagaimana dilakukan oleh
orang-orang Habasyah, sehingga Hamzah rebah dan tewas. Kemudian Wahsyi
berlari menemui majikannya yang menari bersama rombongan wanita Quraisy,
sementara mereka memukul rebana untuk memberi semangat kepada kaum laki-
laki Quraisy. Lalu Hind bergegas pergi bersama Wahsyi yang telah menyam-
paikan kabar gembira itu kepadanya. Dia mulai membelah dada Hamzah dan
mencabut hatinya, kemudian mengunyahnya dengan gigi-giginya untuk memu-
askan diri dan membalas dendam. [Astaghfirullaahal adziim, Naudzubillaahi
min dzaalik]

Shafiyah, saudara sang syahid Singa Allah, mendengar berita ini.
Maka dia pun datang ke medan pertempuran mencarinya. Rasul SAW melihat
dan mengetahui bahwa bibinya akan menghadapi situasi yang sulit bila
melihat Hamzah dalam keadaan itu. Maka beliau berkata kepada puteranya,
Az-Zubair :"Suruhlah dia kembali, agar tidak menyaksikan keadaan sauda-
ranya itu." Kemudian Az-Zubair pergi dan berkata kepadanya dengan suara
tenang namun sedih :"Wahai, Ibuku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruhmu
kembali."

Shafiyah menjawab dengan segera dalam ketenangan dan keyakinan :
"Mengapa ? Aku telah mendengar bahwa saudaraku itu telah dirusak tubuhnya
dan hal itu demi Allah. Maka kami ridho atas kejadian itu dan aku akan
bersabar dengan baik dan akan mengharap pahala, insyaAllah." Az-Zubair
kembali mengabari Rasulullah SAW tentang kesabaran dan ketabahan yang
ditunjukkan Shafiyah, dan dia sampaikan perkataan ibunya itu kepada Nabi
SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya :"Biarkan dia pergi."

Shafiyah bersikap tabah dan teguh. Dia memandang sang syahid
dengan pandangan perpisahan seraya berkata :"Semoga Allah melimpahkan
sholawat kepadamu, wahai, Abu Ammaroh dan mengampuni dosamu. Kita adalah
kaum yang terbiasa mengalami pembunuhan dan mati syahid. Tiada daya dan
kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah. Sesungguhnya kita adalah
kepunyaan Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Cukuplah
Allah sebagai pelindungku dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung. Semoga Allah
mengampuni dosamu dan dosaku serta membalasmu dengan balasan bagi hamba-
hamba-Nya yang mukhlis."

Hari-hari berlalu dan keteguhan Shafiyah dalam perang Uhud tetap
menjadi contoh yang tinggi dalam hal kesabaran dan ketabahan. Sesungguh-
nya kehidupan Shafiyah seluruhnya adalah pelajaran.

Kepahlawanan Wanita dan Laki-laki

Dalam Perang Khandaq, Shafiyah berada bersama para wanita dan
anak-anak di dalam benteng yang dijaga Hassan bin Tsabit, penyair Nabi
SAW. Situasi di Madinah sangat gawat, karena dikepung dari segenap
penjuru. Yahudi Bani Quraidhah telah mengkhianati janji. Medinah ter-
ancam dari dalam dan dari luar. Di sinilah kemudian Shafiyah melihat
orang Yahudi berkeliling di benteng dan melewati parit pertahanan. Maka
Shafiyah berkata kepada Hassan :"Hai, Hassan, orang Yahudi itu mengelilingi
benteng. Aku khawatir dia akan menunjukkan rahasia kita kepada orang-orang
Yahudi yang di belakang kita."

Tahukah Anda, apa yang dilakukan oleh Hassan ? Hassan takut perang
dan menghindari pertempuran. Dia berkata :"Semoga Allah mengampuni dosamu,
wahai, puteri Abdul Muththalib. Demi Allah, engkau tentu sudah lama tahu
aku bukanlah orang yang bertugas melakukan hal ini dan tidak mempunyai
kekuatan untuk itu." Wanita-wanita keluarga Rasulullah SAW termasuk Shafi-
yah, berada dalam bahaya. Maka bagaimana dia bisa berdiam diri ? Shafiyah
mengambil sebatang tiang kemah dan keluar dari benteng, lalu menyerang
orang Yahudi itu. Dia memukul kepala orang itu dengan tiang hingga roboh
ke bumi.

Ketika itu Shafiyah memukulnya berulang-ulang hingga menewaskannya.
Lalu dia kembali ke benteng dan melemparkan tiang itu dari tangannya, dan
dia kembali kepada Hassan serta berkata :"Hai, Hassan, aku telah membunuh
orang Yahudi itu. Turunlah dan rampaslah harta bendanya. Aku tidak bisa
melakukannya karena dia seorang laki-laki, sedang aku seorang wanita."
Penyair itu menjawab :"Demi Allah, aku tidak punya keperluan (hak) untuk
merampasnya, wahai, puteri Abdul Muththalib."

Adalah Shafiyah mengabdi pada da'wah di sekitar Rasulullah SAW
dengan kekuatan, kesabaran dan keberanian serta ketepatan pendapat dan
membela kehormatan. Takdir telah menghendaki adanya penimbangan antara
kepahlawanan wanita dan laki-laki dalam satu peristiwa. Dalam suatu sikap,
orang laki-laki meninggalkan keberanian yang justru diharapkan darinya.
Dia relah meninggalkan sikap pahlawan untuk diberikannya kepada seorang
wanita yang mestinya kurang keberaniannya dibandingkan laki-laki.

Di sini, sejarah tidak ketinggalan sedikit pun untuk mencatat
keberanian orang wanita dalam suatu keadaan, di mana orang laki-laki
tidak melakukannya. Marilah kita buka kembali buku sejarah, siirah,
khabar-khabar (hadits), cerita peperangan atau biografi dan kitab Tha-
baqaat, pastilah kita temukan kisah Shafiyah binti Abul Muththalib
bersama mata-mata Yahudi yang memata-matai untuk mengetahui rahasia
kaum Muslimin. Ibnu Hisyam mencatat peristiwa Shafiyah dengan orang
Yahudi itu sebagai nukilan dari sejarawan Ibnu Ishaq.

Sejarah memelihara kehebatan Shafiyah ini, agar dapat diikuti
oleh wanita dari tahun ke tahun, sepanjang zaman. Mata-mata Yahudi
selalu berada di setiap tempat untuk mengawasi kita. Mereka menyiapkan
segala persiapan untuk mendirikan negara di atas tulang-belulang korban-
korban kita. Apakah sejarahh akan mengulangi dirinya sehingga kita bisa
menemukan seseorang di antara wanita-wanita kita yang menghadapi para
mata-mata itu ? Kita harapkan adanya seorang "Shafiyah" dalam setiap
pertempuran yang dicatat dalam sejarah mengenai keberaniannya.

Sejarah Shafiyah ini menyerukan kepada setiap laki-laki dan
wanita Arab :"Bukalah mata kalian dan waspadalah terhadap bahaya-
bahaya di sekeliling kalian."


Khaulah binti Malik bin Tsa'labah

Dia seorang wanita yang fasih dan indah perkataannya. Dia

selalu berhubungan dengan Allah SWT. Tidak kehilangan imannya kepada
Allah di saat-saat yang paling sulit. Akan tetapi dia mengadukan ke-
pada Allah dan Rasul-Nya. Kami ketengahkan kisah Khaulah bersama su-
aminya di hadapan para suami dan isteri ketika terjadi perselisihan,
perdebatan, perbantahan dan pertengkaran.

Khaulah berkata :"Demi Allah, mengenai aku dan Aus bin Shamit,
Allah Azza wa Jalla menurunkan awal surah Al Mujaadilah. Dia berkata :
"Ketika itu aku sedang berada di dekatnya. Dia adalah orang tua yang
buruk kelakuannya dan sudah jemu." Khaulah berkata :"Pada suatu hari
dia masuk kepadaku, lalu aku membantahnya karena sesuatu hal sehingga
dia marah dan berkata :"Engkau terhadapku seperti punggung ibuku."
Kemudian dia keluar, lalu duduk di tempat pertemuan kaumnya sesaat,
setelah itu dia masuk dan menginginkan diriku. Maka aku katakan :
Sekali-kali jangan. Demi Allah yang menguasai nyawaku, jangan lolos
kepadaku sementara engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan,
hingga Allah dan Rasul-Nya memberi keputusan tentang kita."

Khaulah berkata : "Dia memaksaku, namun aku menolak. Aku
berhasil mengalahkannya, sebagaimana halnya wanita yang berhasil
mengalahkan laki-laki tua, maka aku berhasil menyingkirkannya dariku.
Kemudian aku keluar menemui Rasulullah SAW, lalu duduk di hadapan
beliau dan aku ceritakan kepada beliau perlakuan sang suami terhadap
diriku. Aku adukan kepada beliau perlakuan buruk yang aku terima dari
suamiku." Khaulah berkata :"Rasulullah SAW hanya bersabda :"Wahai,
Khuwailah, putera pamanmu seorang tua yang sudah lanjut usianya, maka
takutlah engkau kepada Allah."

Khaulah berkata :"Demi Allah, begitu aku pergi, turun Al-
Qur'an mengenai diriku. Rasulullah SAW mengalami sesuatu yang biasa
dialaminya, kemudian terbebas darinya. Maka beliau bersabda :"Wahai
Khuwailah, Allah telah menurunkan wahyu mengenai dirimu dan temanmu.
Kemudian beliau membacakan surah Al Mujaadilah :
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang
memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya)
kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguh
nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Orang-orang yang menzihar isterinya di antara kamu, (menganggap
isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka.
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan
sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang
mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
Orang-orang yang menzihar isteri mereka, kemudian mereka hendak
menarik kembali apa yang mereka ucapkan, mereka (wajib atasnya) memerde-
kakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah
yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerja-
kan.
Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya)
berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa
yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin.
Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah
hukum-hukum Allha; bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih."
(Q.S. Al-Mujaadilah, 58:1-4)

Khaulah berkata :"Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Suruhlah
dia membebaskan seorang budak. Maka aku katakan : Demi Allah, wahai
Rasulullah, dia tidak punya budak untuk dibebaskan. Nabi SAW bersabda :
Suruhlah dia berpuasa dua bulan berturut-turut. Maka aku katakan : Demi
Allah, sesungguhnya dia seorang tua renta yang tidak berdaya. Nabi SAW
bersabda : Suruhlah dia memberi makan orang miskin sebanyak 60 sha' kurma.
Maka aku katakan : Wahai, Rasulullah, dia tidak mempunyai makanan sebanyak
itu. Maka Rasulullah SAW bersabda : Kami akan membantumu dengan serangkai
kurma. Maka aku katakan : Wahai Rasulullah, aku akan membantunya dengan
serangkai kurma lagi. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Engkau berbuat
benar dan baik. Pergilah dan sedekahkan kurma itu baginya, kemudian per-
lakukan putera pamanmu dengan baik. Maka aku pun melakukannya."
["Al-Ishaabah, juz 8, halaman 618-620]

Inilah dia, Khaulah. Di dalam kisahnya terdapat pelajaran tentang
kerukunan hidup suami isteri dan keikutsertaan dalam memperbaiki perpecah-
an dan pemeliharaan hubungan kerabat serta ketuaan usia antara suami isteri.
Diriwayatkan, bahwa Umar bin Khaththab r.a. berjumpa dengannya di masa khi-
lafahnya, ketika dia sedang menunggang seekor keledai dan orang-orang di
sekelilingnya. Kemudian Khaulah menyuruhnya berhenti dan menasihatinya.
Lalu dikatakan kepada Umar r.a. :"Apakah engkau bersikap demikian terhadap
perempuan tua ini ?" Umar berkata :"Tahukah kalian, siapa wanita tua ini ?
Dia adalah Khaulah binti Tsa'labah. Allah SWT mendengar perkataannya dari
atas tujuh lapis langit. Apakah Tuhan semesta alam mendengar perkataannya,
sedangkan Umar tidak mendengarnya ?" [Husnul Uswah bimaa Tsabata Minallaahi
wa Rasuulihi fin Niswah]

Khaulah tidak mengandalkan kekerasan dan tidak berpikir mengenai
kejahatan, karena itu bukan akhlaq Islam. Akan tetapi dia mencari penye-
lesaian di sisi Allah dan Rasul-nya, dan mengadukan perkaranya kepada
Allah SWT yang menciptakannya, agar menghilangkan kesusahannya dan memberi
kemudahan sesudah kesulitan. Jika Anda ingin mendengarnya ketika menyampai-
kan keluhan kepada Rasulullah SAW, maka marilah kita baca hadits yang di-
riwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan disahihkannya, dan Baihaqi
serta lainnya dari 'Aisyah r.a., dia berkata :

"Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya mendengar segala sesuatu.
Sungguh aku mendengar perkataan Khaulah binti Tsa'labah dan sebagiannya
tidak bisa kudengar ketika dia mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW
dan berkata : Wahai Rasulullah, dia menghabiskan masa mudaku dan aku
banyak melahirkan anak untuknya. Setelah usiaku menjadi tua dan aku ber-
henti melahirkan, dia melakukan zihar terhadapku. Ya, Allah, aku mengeluh
kepada-Mu."

Khaulah berkata :"Begitu aku pergi, Jibril a.s. turun membawa ayat-
ayat ini." [Surah Al-Mujaadilah]

Nabi SAW telah berwasiat agar memperlakukan para wanita dengan baik
dan beliau adalah teladan tertinggi dalam memperlakukan isteri-isterinya.
Nabi SAW bersabda mengenai hal itu : "Tidaklah orang Mu'min mendapat faedah
sesudah taqwa kepada Allah yang lebih baik daripada isteri yang sholeh. Jika
dia menyuruhnya, maka sang isteri menaatinya. Jika dia memandang kepadanya,
sang isteri menyenangkannya. Jika dia bersumpah kepadanya, maka sang isteri
melakukannya. Jika dia tidak ada di rumah, sang isteri memelihara harta dan
kehormatan suaminya." Nabi SAW bersabada : "Orang Mu'min yang paling sempur-
na imannya ialah yang terbaik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang
terbaik terhadap isterinya." ["Kanzul 'Ummaal (9/258-261)]

Nabi SAW juga bersabda dalam akhir sebuah khotbahnya :"Perlakukan
para wanita dengan baik." Dari Amru Ibnul Ahwash di sebuah hadits panjang
dalam menceritakan haji Wada', dari Nabi SAW, beliau bersabda :"Perlakukan-
lah para isteri dengan baik, karena mereka adalah tawanan pada kalian. Ka-
lian tidak berkuasa sedikit pun atas mereka selain itu, kecuali jika mereka
melakukan perbuatan keji. Jika mereka melakukannya, maka jauhilah mereka
dengan pukukan yang tidak menyakitkannya.
Jika mereka taat kepada kalian, maka janganlah mencari jalan untuk
menyakiti hati mereka. Ketahuilah, bahwa kamu mempunyai hak pada isteri-
isterimu dan isteri-isterimu mempunyai hak kepada kalian. Adapun hak kalian
pada isteri-isterimu, maka mereka tidak boleh mengizinkan orang-orang yang
tidak kalian sukai menginjak tempat tidurnya dan tidak boleh mengizinkan
orang-orang yang tidak kamu sukai memasuki rumah-rumah kalian. Ketahuilah,
sesungguhnya hak mereka pada kalian adalah kalian beri pakaian dan makanan
yang baik kepada mereka." (HR. Tirmidzi dan disahihkannya)

Ummu Hakim binti Al-Harits Al-Makhzumiyah, Isteri Ikrimah bin

Sebuah figur dari iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW

serta lambang dari pengorbanan dan pembelaan di jalan Allah SWT.
Sesungguhnya dia adalah wanita mujahid yang agung. Sebelum masuk
Islam, dia keluar bersama suaminya untuk ikut dalam perang Uhud.
Suaminya adalah Ikrimah bin Abu Jahal, dan dia harus berdiri dalam
barisan Musyrikin.

Akan tetapi pada waktu penaklukan Mekkah, dia sendiri yang
masuk Islam, tanpa suaminya. Adapun suaminya, Ikrimah bin Abu Jahal,
maka dia telah minta perlindungan kepadanya. Maka kaum Muslimin pun
melindunginya, akan tetapi Ikrimah telah kabur. Ummu Hakim keluar
mencarinya, padahal Ikrimah telah kabur ke Yaman. Ummu Hakim menemu-
kannya di Pesisir Tihamah. Ikrimah sudah berada di kapal. Maka Ummu
Hakim meneriakinya :"Hai, putera pamanku, aku datang kepadamu dari
orang yang paling pemurah, paling banyak berbuat kebajikan dan se-
baik-baik manusia. Jangan binasakan dirimu ! Aku telah minta perlin-
dungan bagimu dan dia telah melindungimu." Ikrimah berkata :"Engkau
lakukan itu ?" Ummu Hakim menjawab, "Ya, aku berbicara kepadanya,
lalu dia melindungimu."

Kemudian Ikrimah kembali bersamanya, Ikrimah datang dan
berhenti di pintu Rasulullah SAW bersama isterinya. Ummu Hakim
minta izin kepada Rasulullah SAW, lalu masuk. Umar r.a. mengabari
Rasulullah SAW tentang kedatangan Ikrimah yang telah masuk Islam.
Ummu Hakim termasuk wanita-wanita yang berada di sekitar Rasulullah
SAW dalam menjalankan da'wah dan membelanya. Dia ikut dalam Perang
Yarmuk dan menunjukkan keberanian yang baik di sana. Dia bertempur
dengan sengit dalam Perang Marj Ash-Shafar (di dekat Damsyik). Dia
keluar memegang tiang kemah dan membunuh 7 orang tentara Romawi
dengan tiang itu.

Tidakkah Anda ketahui apa yang dilakukan wanita Muslim bagi
suami dan agamanya ? Untuk mengetahui lebih rinci, lihatlah kitab-
kitab rujukan berikut ini :
1. Taarikh Ath-Thabari
2. Ibnul Atsir, "Usudul Ghaabah"
3. Al-Muwaththa'
4. Ibnu Abdil Barr, "Al-Istii'aab"
5. Taarikh Ibnu Asakir
6. Thabaqat Ibnu Sa'ad
7. Siirah Ibnu Asakir
8. Ibnu Hajar, "Al-Ishaabah"
9. Al-Baladziri, "Futuuhul Buldaan"
10. Ash-Shafadi, "Al-Waafy bil Wafayaat"

Ruqayyah binti Rasulullah SAW, Isteri Utsman

Rombongan muhajir ke Habasyah membawa 11 orang wanita. Ini

berarti bahwa wanita Muslim adalah bagian dari da'wah dan jihad di
jalan Allah SWT. Mereka tinggalkan kesenangan hidup yang hanya
sebentar, berupa harta, anak dan keluarga serta negeri demi Allah.
Mereka tinggalkan tanah airnya yang mahal dan berangkat menuju Ha-
basyah, sebuah negeri yang jauh dengan penduduk yang berlainan
bangsa, warna dan suku, demi membela aqidah yang diimaninya.

Tatkala fajar da'wah memancar dari Mekkah, maka muhajir
pertama bukanlah dua orang laki-laki, tetapi seorang laki-laki dan
seorang wanita. Kedua muhajir ini adalah Utsman bin Affan dan isteri-
nya, Ruqayyah binti Muhammad SAW. Ruqayyah lahir sesudah kakaknya,
Zainab. Sesudah kedua orang itu, muncullah Ummu Kultsum yang menemani
dalam hidupnya setelah Zainab menikah.

Ketika keduanya mendekati usia perkawinan, Abu Thalib meminang
mereka berdua untuk kedua putera Abu Lahab. Allah SWT menghendaki per-
kawinan ini tidak berlangsung lama, karena melihat sikap Abu Lahab
terhadap Islam. Akan tetapi Allah SWT menampilkan Utsman bin Affan ke-
pada kedua puteri itu. Maka dia pun menikah dengan Ruqayyah dan hijrah
bersamanya ke Habasyah. Ummu Kultsum tetap tinggal bersama ayah dan
ibunya menunggu sesuatu yang ditakdirkan baginya.

Imam Adz-Dzahabi berkata :"Ruqayyah hijrah ke Habasyah bersama
Utsman dua kali. Nabi SAW bersabda :"Sesungguhnya kedua orang itu (Uts-
man dan Ruqayyah) adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Allah
sesudah Luth."[ "Siyar A'laamin Nubala'"; juz 2, halaman 78] Anas bin
Malik r.a. berkata : Utsman bin Affan keluar bersama isterinya, Ruqay-
yah, puteri Rasulullah SAW menuju negeri Habasyah. Lama Rasulullah SAW
tidak mendengar kabar kedua orang itu. Kemudian datang seorang wanita
Quraisy berkata :"Wahai, Muhammad, aku telah melihat menantumu bersama
isterinya." Nabi SAW bertanya :"Bagaimanakah keadaan mereka ketika kau
lihat ?"

Wanita itu menjawab :"Dia telah membawa isterinya ke atas se-
ekor keledai yang berjalan pelahan, sementara ia memegang kendalinya."
Maka Rasulullah SAW bersabda :"Allah menemani keduanya. Sesungguhnya
Utsman adalah laki-laki pertama yang hijrah membawa isterinya, sesu-
dah Luth a.s."

Ruqayyah kembali bersama Utsman ke Mekkah dan mendapati ibunya
telah berpulang kepada Ar-Rafiiqil A'laa. Kemudian kaum Muslimin pindah
dari Mekkah ke Madinah semuanya. Ruqayyah juga ikut hijrah bersama su-
aminya, Utsman, sehingga dia menjadi wanita yang hijrah dua kali.

Penyebab hijrah ke Habasyah adalah takut fitnah dan menyelamat-
kan agama mereka menuju Allah. Bukan menyebarkan agama Islam, karena
negeri Habasyah pada waktu itu menganut agama Masehi dan agama Masehi
di sana tidak akan menerima agama baru yang menyainginya, meskipun Ha-
basyah diperintah oleh raja yang tidak menganiaya seseorang. Hijrah ke
Habasyah merupakan bagian dari peralihan dan kelanjutan perjuangan,
karena hasil yang diharapkan oleh kaum muhajirin dari hijrah mereka ke
Habasyah adalah menyelamatkan agamanya ke negeri yang memberi ketenang-
an bagi mereka di sana. Di negeri itu mereka tidak mengalami kekerasan
dan gangguan, sampai ketika saudara-saudara mereka di Mekkah ditakdirkan
binasa hingga orang terakhir, membawa panji da'wah sebagai penerus.

Adapun hijrah ke Madinah, maka penyelamatan agama adalah salah
satu sebabnya, tetapi bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah
perubahan dan kelanjutan perjuangan di mana para muhajirin dapat mendi-
rikan sebuah tanah air tempat hijrah mereka. Selama 13 tahun Islam me-
rupakan agama tanpa tanah air dan rakyat tanpa negara. Hijrah yang me-
rupakan tahap kedua di antara tahap-tahap da'wah adalah tahap perjuang-
an yang paling rumit. Apabila tahap perjuangan ini telah memiliki sifat
petualangan, maka sesungguhnya petualangan itu hanyalah semacam perju-
angan, bahkan macam perjuangan heroik tertinggi. Tahap perjuangan ini
berhasil mendapat kemenangan. Iman mengalahkan kekuatan, roh mengalah-
kan materi dan kebenaran mengalahkan kebathilan. Sesungguhnya kebesaran
dari kemenangan itu sulit digambarkan dan dinilai.

Kebebasan dari ketakutan dan perjuangan menuju keamanan. Kebe-
basan dari perbudakan dan perjuangan menuju kemerdekaan. Kebebasan dari
kehinaan dan perjuangan menuju kemuliaan. Kebebasan dari kesempitan dan
perjuangan menuju kelapangan. Kebebasan dari kelumpuhan dan perjuangan
menuju keaktifan. Kebebasan dari kelemahan dan perjuangan menuju keku-
atan. Dan kebebasan dari ikatan-ikatan bicara dan perjuangan menuju
kebebasan berbicara.

Ruqayyah kembali kepada Tuhannya setelah menderita sakit demam.
Kemudian Rasulullah SAW mengawinkan Utsman dengan Ummu Kultsum. Semoga
Allah SWT merahmati Ruqayyah yang hijrah dua kali dan Utsman yang mem-
punyai dua cahaya, dan semoga Allah SWT membalas keduanya atas jihad
dan kesabarannya dengan sebaik-baik balasan. Amiin yaa Robbal'aalamiin.